Virus Corona

Ada Total 48 Kasus Mutasi Corona N439K di Indonesia

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menyebut mutasi corona N439K telah terdeteksi di Indonesia.

Tangkap layar channel YouTube KompasTV
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Subandrio 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menyebut mutasi corona N439K telah terdeteksi di Indonesia.

Ia mengatakan, total ada 48 kasus mutasi N439K yang terdeteksi.

Kasus-kasus tersebut ditemukan dari 526 sample yang diunggah ke repository Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID).

Menurut Amin, kasus telah terdeteksi sejak akhir tahun lalu. Namun baru dilaporkan pada Maret ini.

"Sudah sejak Desember lalu. Sejauh ini 48 isolat yang dilaporkan yang terdeteksi (mutasi N439K)," ujarnya saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Kamis (11/3/2021).

Amin belum memberikan keterangan detail sebaran kasus tersebut, tetapi laporan dari lembaga yang melakukan pemeriksaan beberada di Pulau Jawa.

"Instansi terkait virus ini ada di Pulau Jawa tapi mungkin di luar Jawa juga ada," kata Amin.

Lebih lanjut, dari laporan peneliti tingkat keganasan mutasi virus ini sama dengan jenis virus aslinya. Tetapi lebih kuat untuk tidak dikenali oleh antibodi.

Baca juga: Mutasi Virus Corona Sangat Cepat, Usai B117 Kini Muncul N439K, Termasuk Tipe Liar Seperti di Wuhan

Sebelumnya, Pengurus Besar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengingatkan, adanya ancaman baru terkait mutasi corona N439K.

"Varian N439K ini yang sudah (ditemukan) lebih di 30 negara ternyata lebih "smart" dari varian sebelumnya, karena ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi," ujar Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved