Breaking News:

Penanganan Covid

Jokowi: Bupati Harus Ngerti, Berapa yang di Vaksin dan Kasus Covid-19 di Wilayahnya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para bupati untuk memastikan proses vaksinasi berjalan dengan cepat.

TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dengan sasaran tenaga pendidik guru di Puskesmas Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Kamis (25/3/2021). Pelaksanaan vaksinasi di mulai pukul 09.00 WIB. (Tribun Jateng/ Hermawan Handaka) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para bupati untuk memastikan proses vaksinasi berjalan dengan cepat.

Mulai dari kesiapan vaksinator dan target setiap kabupaten yang harus divaksinasi.

Karena, Jokowi ingin setiap kabupaten memahami jumlah target vaksin yang harus dilaksanakan di daerah. Jangan sampai, target itu tak diperhatikan dengan detail.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi dalam sambutan Munas Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Tahun 2021, yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (26/3/2021).

"Bupati harus ngerti, 'Oh 182 ribu, Pak (yang divaksin,red)'. Jangan pakai 'kurang lebih 200 ribu, Pak'. Itu enggak ngerti berarti. Harus bisa berapa yang mau divaksin. 212.300 misalnya. Oh detail, berarti ngerti. Tanya kasus harian Covid berapa, 'aduh sebentar tanya ke Dinkes, Pak'. Aduh ini persoalan gede yang semua harus tahu," kata Jokowi.

Baca juga: Jokowi: Vaksin Covid Terbatas, Akan Melimpah di Juli-Agustus

Presiden pun mengatakan, jumlah penduduk yang akan divaksinasi belum tercapai karena dosis vaksin yang belum tercukupi.

Maka, Jokowi meminta kepada pars bupati untuk menetukan prioritas kelompok masyarakat mana yang harus menerima vaksin.

Ia pun mengatakan, masyarakat yang mobilitasnya tinggi harus diutamakan dalam menerima vaksin.

"Bapak Ibu Bupati harus tahu dan harus dikontrol sekarang mulai di luar tenaga kesehatan dan pelayan publik. Dahulukan tempat-tempat yang interaksinya tinggi, mobilitasnya tinggi misalnya pasar. Itu tempat interaksi dan mobilitas orang tinggi, dahulukan. Terminal mobilitas tinggi, interaksi tinggi, dahulukan," ucapnya.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Produk Populer

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved