Breaking News:

Virus Corona

Korea Selatan Tangguhkan Suntikan Vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk Warga Non Lansia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan EMA telah sama-sama mengatakan manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

ENDRIK SCHMIDT / DPA-ZENTRALBILD / DPA PICTURE-ALLIANCE MELALUI AFP
Seorang perawat menyusun jarum suntik dengan persiapan dari Astrazeneca dalam latihan GP Axel Stelzner. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL—Korea Selatan memutuskan akan menangguhkan sementara pemberian vaksin Covid-19 AstraZeneca kepada orang-orang di bawah 60 tahun atau non lansia di tengah isu pembekuan darah di Eropa.

Keputusan ini diambil sembari menyetujui suntikan vaksin Johnson & Johnson dalam upaya mempercepat peluncuran vaksinasi.

Badan Medis Eropa (EMA) akan mengumumkan hasil tinjauan tentang apakah beberapa kasus pembekuan darah pada orang dewasa dapat dikaitkan dengan suntikan vaksin AstraZeneca.

Baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Lanud Soewondo Medan

Kontroversi global tentang kemanjuran dan efek samping dari beberapa vaksin Covid-19 telah menyebabkan beberapa keterlambatan dalam kampanye vaksinasi Korea Selatan, yang dimulai pada akhir Februari lalu, dengan tujuan mencapai kekebalan komunitas pada bulan November mendatang.

AstraZeneca telah mengatakan sebelumnya studinya tidak menemukan risiko gumpalan yang lebih tinggi karena vaksinnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan EMA telah sama-sama mengatakan manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Kementerian keamanan makanan dan obat-obatan Korea Selatan mengatakan pada hari Rabu telah memberikan persetujuan akhir untuk vaksin Johnson & Johnson (J&J) setelah panel ahli memerintah suntikan dosis tunggal itu aman dan efektif.

J&J adalah pembuat vaksin Covid-19 ketiga yang disahkan di Korea Selatan, setelah AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech, yang keduanya membutuhkan dua dosis.

Baca juga: Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Lanud Soewondo Medan

Pihak berwenang berusaha mempercepat kampanye vaksinasi nasional meskipun ada kekurangan pasokan global, sambil memperluas upaya pengujian dan pelacakan preemtif di tengah kekhawatiran akan potensi gelombang infeksi keempat.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) melaporkan 668 kasus baru pada hari Selasa, tingkat tertinggi sejak 8 Januari lalu, dengan kelompok berkembang di taman kanak-kanak, sauna, bar dan gereja, sebagian besar di daerah Seoul yang lebih besar.

Hingga saat ini, total infeksi mencapai 106.898, dengan 1.756 kematian.

"Jika gelombang keempat infeksi menjadi kenyataan, gangguan pada vaksinasi tidak akan terelakkan, serta memberikan pukulan besar bagi ekonomi kita," kata Perdana Menteri Chung Sye-kyun kepada pertemuan pemerintah.

Para pejabat kesehatan menyerukan kepada masyarakat untuk menahan diri dari pertemuan yang tidak penting dan secara ketat mencatat kunjungan ke tempat-tempat keramaian untuk membantu pekerjaan epidemiologi jika terjadi wabah.

Mereka juga mengatakan akan mengumumkan aturan jarak sosial baru pada hari Jumat setelah diskusi dengan para ahli dan pemerintah daerah. (Reuters/Channel News Asia)

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved