Breaking News:

Penanganan Covid

Informasi Hoaks Penyebab Banyak Warga Enggan Divaksinasi Covid-19

Kandungan vaksin COVID-19 ini adalah antigen dari virus SARS-CoV-2, yang diperlukan untuk membentuk antibodi.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Satgas Covid-19 kembali melakukan penelusuran atau tracing dengan swab PCR kepada warga sekitar Taman Pintar Kayu Putih, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021). Sebelumnya satgas sudah melakukan tracing kepada 48 warga dengan hasil negatif, pihak Polsek Pulogadung juga telah melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warga. Tracing terus ditingkatkan oleh pemerintah untuk mengetahui penyebaran Covid diantara warga dan antisipasi Covid-19 varian baru. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak juga menghentikan peredaran hoaks di masyarakat.

Bahkan kini marak hoaks terkait pengobatan dan penanganan Covid-19 terutama hoaks seputar vaksinasi.

Pemerhati imunisasi Dr Julita Sundoro menuturkan hoaks justru merugikan program vaksinasi Covid-19.

"Imbasnya cakupan vaksinasi rendah,” terangnya dalam dialog "Produktif KPCPEN Bertema Hindari Hoaks Seputar Vaksinasi" beberapa waktu lalu.

Baca juga: Cara Dapat Bantuan Stimulus Covid-19 dari PLN Bulan Juni 2021, Simak di Sini

Dr. Julitasari berpesan agar masyarakat harus mendapat penjelasan dari institusi yang kredibel dan dapat dipercaya seperti Kemenkes dan Kemkominfo.

"Institusi ini perlu jadi rujukan agar masyarakat jangan menelan mentah-mentah suatu berita dan informasi. Kita harus cek kembali kalau ragu dan tidak langsung menyebarkannya,” ujarnya.

Seperti halnya keraguan masyarakat terhadap kandungan vaksin COVID-19, ia menerangkan bahwa kandungan vaksin COVID-19 ini adalah antigen dari virus SARS-CoV-2, yang diperlukan untuk membentuk antibodi.

“Apabila mendengar ada demam atau bengkak di tempat penyuntikan, itu adalah hal yang biasa saja dalam proses pembentukan antibodi dalam tubuh manusia. Reaksi-reaksi ringan akibat divaksinasi itu bisa hilang dalam satu dua hari. Dalam kartu vaksinasi pun sudah diberikan nomor kontak untuk menghubungi apabila terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI),” ujar Dr. Julitasari.

  

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved