Rabu, 3 Juni 2026

Virus Corona

Hasil Studi, Epidemi Virus Corona Pernah Melanda Asia Timur 20.000 Tahun Lalu

Epidemi virus corona ternyata pernah terjadi di kawasan Asia Timur lebih dari 20.000 tahun yang lalu.

Tayang:
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
hearingreview
Ilustrasi virus corona. Berdasarkan hasil studi epidemi virus corona ternyata pernah terjadi di kawasan Asia Timur lebih dari 20.000 tahun yang lalu. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, ARIZONA - Epidemi virus corona ternyata pernah terjadi di kawasan Asia Timur lebih dari 20.000 tahun yang lalu.

Peristiwanya bahkan mirip seperti pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi internasional tentang genom manusia.

Studi tersebut menemukan bahwa wabah itu meninggalkan jejak dalam susunan genetik orang-orang dari Asia Timur, daerah yang kini mencakup negara seperti China, Jepang, Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan, dan Taiwan.

Seperti yang diungkapkan para peneliti dari Queensland University of Technology, University of Adelaide, University of California San Francisco, dan University of Arizona.

"Genom manusia modern berisi informasi evolusioner yang menelusuri kembali puluhan ribu tahun lalu, seperti mempelajari silsilah pohon yang memberi kita wawasan tentang kondisi yang dialaminya saat tumbuh," kata Profesor Kirill Alexandrov dari Aliansi Biologi Sintetis CSIRO-QUT.

Dikutip dari laman The Tribune of India, Jumat (25/6/2021), dalam 20 tahun terakhir, virus corona bertanggung jawab atas terjadinya tiga wabah besar SARS-CoV yang mengarah ke Sindrom Pernafasan Akut Parah.

Baca juga: Ada Covid Varian Delta di Inggris, Timnas Italia di London Hanya 30 Jam Untuk Laga Babak 16 Besar

Pertama berasal dari China pada tahun 2002 dan menewaskan lebih dari 800 orang.

Kemudian ada MERS-CoV yang mengarah ke Middle East Respiratory Syndrome dan menewaskan lebih dari 850 orang.

Lalu yang ketiga adalah SARS-CoV-2 yang terjadi saat ini dan mengarah ke Covid-19, yang sejauh ini telah menewaskan 3,9 juta orang di seluruh dunia.

Terkait penelitian yang diterbitkan dalam jurnal 'Current Biology', tim menganalisis genom lebih dari 2.500 manusia modern dari 26 populasi di seluruh dunia, untuk memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan sejarah wabah virus corona.

Tim peneliti pun menemukan peran jenis protein tertentu yang dikenal sebagai VIP (protein yang berinteraksi dengan virus), protein ini merupakan bagian dari 'mesin seluler' yang berinteraksi dengan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Baca juga: Positif Covid-19, Tasya Farasya Disarankan Minum Air Campur Minyak Kayu Putih, Dokter Melarang

Dalam jutaan tahun evolusi manusia, seleksi alam telah menyebabkan terjadinya fiksasi varian gen yang mengkode protein yang berinteraksi dengan virus (VIP) pada tiga kali tingkat yang diamati untuk kelas gen lainnya.

Dalam studi tersebut, peneliti menemukan tanda-tanda adaptasi pada 42 gen manusia berbeda yang mengkode VIP.

"Kami menemukan sinyal VIP di lima populasi dari Asia Timur dan menemukan nenek moyang orang Asia Timur modern pertama kali terpapar virus corona lebih dari 20.000 tahun yang lalu," kata Penulis utama penelitian tersebut, Dr Yassine Souilmi, dari Fakultas Ilmu Biologi University of Adelaide.

Baca juga: Studi Terbaru Ungkap Covid-19 Pertama Muncul di China pada Oktober 2019, Ahli: Bukan Buatan Manusia

Selain itu, tim peneliti juga menemukan 42 VIP, terutama yang aktif pada paru-paru, jaringan yang paling terpengaruh oleh virus corona.

"Dan mengkonfirmasi bahwa 42 VIP ini berinteraksi langsung dengan virus yang mendasari pandemi saat ini," jelas Souilmi.

Studi ini membantu mendapatkan pemahaman tentang bagaimana genom dari populasi manusia yang berbeda, bisa beradaptasi dengan virus yang baru-baru ini diakui sebagai pendorong signifikan evolusi manusia.

Ini juga dapat mendorong identifikasi virus yang telah menyebabkan epidemi di masa lalu.

"Ini, pada prinsipnya, memungkinkan kami untuk menyusun daftar virus yang berpotensi berbahaya dan kemudian mengembangkan diagnostik, vaksin, dan obat-obatan untuk mengantisipasi kembalinya virus tersebut," jelas Alexandrov.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved