Rabu, 13 Mei 2026

Virus Corona

Mengenal Apa Itu Efikasi Vaksin, Mengapa Sangat Penting?

Vaksin sejak dulu hingga kini menjadi suatu hal yang penting untuk mendukung sistem kekebalan (imunitas) tubuh seseorang agar tidak rentan terhadap pe

Tayang:
SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
VAKSINASI WARGA PESISIR - Vaksinator menyiapkan vaksin yang akan diberikan kepada sekitar 1.500 warga pesisir di Surabaya dalam serbuan vaksin covid-19 gratis yang digelar TNI AL, Selasa (6/7/2021). Vaksinasi untuk masyarakat maritim Surabaya kali ini dipusatkan di Gedung Balai Prajurit Kalianak, Surabaya yang digelar Lantamal V Surabaya bersama Akademi Angkatan Laut (AAL). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Vaksin sejak dulu hingga kini menjadi suatu hal yang penting untuk mendukung sistem kekebalan (imunitas) tubuh seseorang agar tidak rentan terhadap penyakit.

Saat ini vaksin juga digunakan untuk melawan virus corona (Covid-19).

Pemerintah tiap negara kini memiliki program vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity) terhadap virus tersebut.

Baca juga: 3.000 Karyawan Pabrik Garudafood Jalani Vaksinasi

Baca juga: Kenali Efikasi dan Efek Samping Vaksin Moderna Asal Amerika Serikat

Lalu apa itu efikasi vaksin?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Imunologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, FINASIM, mengatakan bahwa efikasi merupakan 'kemanjuran' vaksin yang diuji dalam pengujian klinik pada suatu penelitian.

Ia menjelaskan, untuk mengetahui efikasi vaksin dalam tiap penelitian, dilakukan pembagian dua kelompok.

Kelompok yang pertama, diberikan vaksin yang sedang diuji klinik.

Sedangkan kelompok kedua, diberikan cairan yang tidak aktif atau sering disebut placebo.

Petugas medis saat melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19 buatan Sinovac di Puskesmas Kelurahan Cilincing I, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021). Simulasi ini untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat calon penerima vaksin dan juga sebagai upaya untuk memastikan kesiapan tenaga medis atau vaksinator saat bertugas. Nantinya vaksin akan disebar di setiap puskesmas dengan kuota setiap harinya sebanyak 60 vaksin, Adapun Badan Pengawas obat dan Makanan telah mengeluarkan izin edar darurat untuk vaksin Covid-19 buatan Sinovac dan menyatakan vaksin tersebut telah lulus uji keamanan dan keampuhan. Tribunnews/Jeprima
Petugas medis saat melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19 buatan Sinovac di Puskesmas Kelurahan Cilincing I, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021). Simulasi ini untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat calon penerima vaksin dan juga sebagai upaya untuk memastikan kesiapan tenaga medis atau vaksinator saat bertugas. Nantinya vaksin akan disebar di setiap puskesmas dengan kuota setiap harinya sebanyak 60 vaksin, Adapun Badan Pengawas obat dan Makanan telah mengeluarkan izin edar darurat untuk vaksin Covid-19 buatan Sinovac dan menyatakan vaksin tersebut telah lulus uji keamanan dan keampuhan. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Perlu diketahu, placebo merupakan 'obat palsu' yang bentuknya dibuat seperti obat asli.

Biasanya, placebo digunakan sebagai pembanding untuk melakukan pengujian efektivitas suatu obat dalam uji klinik.

"Jadi dalam satu penelitian itu, dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang satu divaksin benar oleh vaksinasi vaksinnya (yang sedang diuji klinik), dan kelompok yang satunya diberi cairan yang tidak aktif yang kita sebut placebo," ujar Prof Iris, dalam talk show live Instagram Mayapada Hospital dan Prudential, Selasa (6/7/2021).

Setelah pemberian vaksin dan placebo pada masing-masing kelompok itu, kemudian dilihat perbandingannya terkait perkembangan efektivitas vaksinnya.

Baca juga: Satgas Covid-19: Vaksin Sinopharm Miliki Efikasi 78,2 Persen

Baca juga: Demam Setelah Divaksin Covid-19 Disebut Jadi Pertanda Baik, Mengapa? Ini Analisa Ahli

"Nah kemudian dibandingkan antara dua kelompok ini, mana yang lebih banyak tertular, nah kita akan melihat kemajuan vaksin," jelas Prof Iris.

Prof Iris menyampaikan, kelompok yang paling banyak tertular biasanya merupakan kelompok yang diberi placebo, bukan vaksin yang tengah diuji.

VAKSINASI WARGA PESISIR - Sekitar 1.500 warga pesisir di Surabaya antusias mengikuti serbuan vaksin covid-19 gratis yang digelar TNI AL, Selasa (6/7/2021). Vaksinasi untuk masyarakat maritim Surabaya kali ini dipusatkan di Gedung Balai Prajurit Kalianak, Surabaya yang digelar Lantamal V Surabaya bersama Akademi Angkatan Laut (AAL). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
VAKSINASI WARGA PESISIR - Sekitar 1.500 warga pesisir di Surabaya antusias mengikuti serbuan vaksin covid-19 gratis yang digelar TNI AL, Selasa (6/7/2021). Vaksinasi untuk masyarakat maritim Surabaya kali ini dipusatkan di Gedung Balai Prajurit Kalianak, Surabaya yang digelar Lantamal V Surabaya bersama Akademi Angkatan Laut (AAL). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ (SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ)

"Biasanya yang lebih banyak tertular tentu saja kelompok yang tidak divaksinasi dengan vaksin yang sebenarnya. Jadi dari situ muncul angka efikasi, kemanjuran," kata Prof Iris.

Sementara itu, efikasi yang ditentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah minimum 50 persen.

Jika suatu obat maupun vaksin dapat memenuhi persyaratan tersebut, maka kemudian mendapatkan rekomendasi.

"Sedangkan WHO menentukan angka efikasi itu minimal 50 persen, itu akan diberikan satu izin ya," papar Prof Iris.

Terkait penggunaan vaksin Covid-19 di Indonesia, saat ini ada beberapa jenis yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), seperti Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna.

"Di negara kita, Badan POM yang memberi izin edar, bila dia (vaksin) sudah lebih dari 50 persen efikasinya dan akan dilihat kriteria semuanya terpenuhi, baru bikin izin edar. Nah izin edar yang selama ini di masa pandemi namanya izin edar yang bersifat darurat, Emergency Use Authorization ya," pungkas Prof Iris.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved