Sabtu, 30 Mei 2026

Virus Corona

Jawa Barat Jadi 'Penyumbang' Kasus Harian Positif Covid-19 Tertinggi Hari Ini

Jawa Barat (Jabar) kini menjadi provinsi tertinggi angka harian tambahan kasus positif Covid-19.

Tayang:
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews/JEPRIMA
Ilustrasi: Petugas medis saat akan membawa sejumlah warga yang diduga terpapar virus covid-19 menggunakan Bus Sekolah menuju ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Puskesmas Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (25/01/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Jawa Barat (Jabar) kini menjadi provinsi tertinggi angka harian tambahan kasus positif Covid-19.

Berdasarkan data Satgas Covid-19, kasus harian di Jabar mencapai 7.287 kasus, Senin (19/7/2021).

Sebelumnya kasus tertinggi Covid-19 seringkali ditempati DKI Jakarta.

Seperti yang terjadi pada Minggu (18/7/2021) kemarin dengan 9.128 kasus.

Tambahan kasus harian Covid-19 Jakarta kini turun menjadi 5.000 kasus.

Selain Jabar dan DKI, tiga provinsi tertinggi lainnya yakni Jawa Timur 4.423 kasus, Jawa Tengah 4.042 kasus, Banten 2.166 kasus.

Sementara itu provinsi yang paling rendah tambahan kasusnya yakni Maluku Utara 92 kasus, Sulawesi Utara 70 kasus, Papua Barat 70, Sulawesi Barat 62 kasus, dan Aceh 11 kasus.

Baca juga: Angka Kematian Harian Covid-19 Indonesia Catat Rekor Baru Tambah 1.338 Kasus, Tertinggi Jawa Timur

Secara nasional penambahan jumlah kasus Covid-19 pada hari Senin ini sebanyak 34.527 kasus.

Sehingga, total kasus terkonfirmasi positif menjadi 2.911.733 kasus, dengan total kasus aktif sebanyak 542.938 kasus.

Sementara itu, untuk kasus kesembuhan, DKI Jakarta tertinggi dengan 12.674 kasus, kemudian Jawa Barat 5.218 kasus, Jawa Tengah 3.668 kasus, Jawa Timur 2.865 kasus, dan DI Yogyakarta 1.335 kasus.

WHO Antisipasi Munculnya Varian Baru

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di beberapa negara saat ini berpotensi memunculkan varian corona baru.

"Pandemi belum selesai," kata Profesor Didier Houssin, ketua Komite Darurat COVID-19 WHO pada Kamis (15/7/2021), dikutip dari ABC News

Lonjakan infeksi dan kematian Covid-19 secara global menyoroti tantangan lebih lanjut dari pandemi.

Di Afrika, kasus baru melampaui puncak gelombang kedua selama tujuh hari yang berakhir pada 4 Juli dan jumlah kematian minggu ini naik 40%, menurut WHO.

Di awal pandemi, hanya ada satu varian virus corona yakni SARS-CoV-2.

Baca juga: China Bantah Klaim WHO Soal Halangi Penyelidikan Asal Usul Covid-19

Baca juga: Sempat Disentil WHO, Vaksin Covid-19 Berbayar untuk Individu Dibatalkan

Gambar selebaran ini diambil dan dirilis pada 12 Februari 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan sambutannya saat konferensi pers pada 12 Februari 2021 di Jenewa. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada 12 Februari 2021 bahwa semua hipotesis tentang asal-usul pandemi Covid-19 tetap ada di atas meja setelah penyelidikan WHO di China.
Gambar selebaran ini diambil dan dirilis pada 12 Februari 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan sambutannya saat konferensi pers pada 12 Februari 2021 di Jenewa. Kepala Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada 12 Februari 2021 bahwa semua hipotesis tentang asal-usul pandemi Covid-19 tetap ada di atas meja setelah penyelidikan WHO di China. (Christopher Black / Organisasi Kesehatan Dunia / AFP)

Namun setelah virus ini menyebar ke seluruh dunia, muncul mutasi-mutasi baru.

Bahkan beberapa mutasi lebih menular daripada virus aslinya.

Saat ini ada empat varian Covid-19 yang menjadi perhatian WHO yakni Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.

Varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di India, telah menyumbang hampir 60% dari semua kasus infeksi Covid-19 di AS.

Bahkan varian ini telah tersebar di lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Indonesia.

"Kami perkirakan itu menjadi strain dominan yang beredar di seluruh dunia, jika belum," kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Lebih lanjut WHO memperingatkan bahwa varian virus baru yang lebih sulit dikendalikan mungkin akan muncul seiring dengan situasi pandemi saat ini.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved