Breaking News:

Virus Corona

Mendagri Apresiasi Realisasi Insentif Nakes di Tangsel Capai 98 Persen

"Saya memberi catatan khusus mengenai BOR. Bed occupancy ratio-nya masih di atas 90 persen. Hal ini perlu diwaspadai," katanya.

istimewa
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian didampingi Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie memberikan keterangan pers saat berkunjung di Kota Tangerang Selatan, Selasa (27/7/2021) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terkait pencairan dana insentif bagi tenaga kesehatan yang sudah tinggi yakni terealisasi sekitar 98 persen dan tidak ada yang bermasalah.

"Untuk tenaga kesehatan yang ada di Tangerang Selatan sudah terealisasi lebih kurang 98 persen. Itu saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi, artinya tidak ada permasalahan untuk pemberian pencairan insentif tenaga kesehatan," ujar Tito Karnavian kepada wartawan di kantor Pemkot Tangsel, Selasa (27/7).

Namun begitu, Tito menyoroti bed occupancy ratio (BOR) di rumah sakit wilayah Kota Tangsel yang masih di atas 90 persen. Tito menilai kondisi tersebut harus diwaspadai.

"Saya memberi catatan khusus mengenai BOR. Bed occupancy ratio-nya masih di atas 90 persen. Hal ini perlu diwaspadai," katanya.

Baca juga: Mendagri Tito Karnavian Minta Gubernur Papua Gunakan Istilah PPKM Level 4, Bukan Lockdown

Tito menilai, jika BOR masih di atas 90 persen, artinya masyarakat masih merasa kesulitan mendapatkan tempat perawatan. Dia meminta Pemkot Tangsel perlu menambah kapasitas BOR di setiap rumah sakit.

"Karena kalau BOR di atas 90 persen, artinya masyarakat kesulitan untuk mendapatkan tempat perawatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan untuk bed Covid-19, baik dari rumah sakit pemerintah maupun swasta yang dikonversi untuk menjadi tempat perawatan Covid-19," imbuhnya.

Tito juga meminta Pemkot Tangsel memperbanyak tempat isolasi mandiri yang terpusat, bukan hanya pada tingkat kota, tetapi juga hingga kelurahan. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat yang dinyatakan reaktif Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang dapat dirawat di tempat tersebut.

Baca juga: Mendagri: 20 Menit Cukup untuk Makan Tanpa Banyak Bicara

"Memperbanyak tempat isolasi mandiri terpusat. Isolasi mandiri terpusat di tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan. Paling tidak sampai situ. Syukur kalau bisa sampai ke tingkat kampung lain. Jadi bagi masyarakat yang positif belum berat bisa dirawat di sana, tidak langsung masuk ke tempat perawatan Covid," tutur Tito.

Selain itu, Tito turut menyoroti tingkat vaksinasi di Kota Tangsel yang belum memenuhi target. Dia meminta Pemkot bekerja lebih giat untuk mempercepat program vaksinasi.

"Berarti kan ini masih relatif belum memenuhi target herd immunity untuk penduduk lebih-kurang hampir 2 juta. Kalau 70 persen, berarti 1,4 juta. Kalau 60 persen, 1,2 juta. Perlu kerja keras lagi. Tentunya kita harapkan Pemda melakukan adanya suplai vaksin yang cukup untuk Kota Tangerang Selatan, sehingga bisa dipercepat program vaksinasi," paparnya.

Dia melanjutkan bahwa keberhasilan penanganan Covid-19 di Kota Tangsel akan mempengaruhi kabupaten dan kota lainnya yang berada di wilayah luar DKI Jakarta. Sehingga, pola penanganannya di Tangsel jadi perhatian.

"Keberhasilan penanganan di Tangsel akan mempengaruhi wilayah sekitarnya, karena aglomerasi, saling timpang. Karena tidak adanya batas alam, yang ada hanya batas adminiatrasi pada peta saja," tandasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved