Breaking News:

Virus Corona

Pemulasaran Jenazah Covid-19 Harus Sesuai Protokol Kesehatan dan Pedoman Keagamaan

Melihat tren kenaikan angka kematian akibat Covid-19 mengindikasikan kebutuhan akan tenaga pemulasaraan jenazah semakin besar.

Ferryal Immanuel/Tribunnews.com
Ilustrasi: Petugas PJLP TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara sedang menurunkan jenazah Covid-19 ke tempat peristirahatannya, Kamis (22/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Melihat tren kenaikan angka kematian akibat Covid-19 mengindikasikan kebutuhan akan tenaga pemulasaraan jenazah semakin besar.

Seluruh jenazah perlu diproses secara cepat dan tepat oleh tenaga pembantu pemulasaraan yang paham mengenai cara pemulasaraan jenazah dengan protokol kesehatan Covid-19 dan juga sesuai dengan pedoman keagamaan.

Wakil Kepala BAZNAS Tanggap Bencana Taufiq Hidayat mengatakan, selama peningkatan kasus Covid-19 banyak fasilitas kesehatan yang kewalahan.

Sehingga, banyak pasien yang melakukan isolasi mandiri kondisi protokol kesehatannya kurang layak.

Hal ini kemudian menyebabkan polemik baru dan mengakibatkatkan meningkatnya kasus kematian orang yang menjalani isoman dimana jenazah telah meninggal lebih dari empat jam, bahkan beberapa tercatat lebih dari 20 jam.

Keadaan ini berbuntut pada meningkatnya permintaan untuk membantu proses pemulasaraan jenazah isoman.

Baca juga: Seluruh Pegawai Kantoran di Jakarta Wajib Divaksin Covid-19? Ini Jawaban Wagub DKI

Lebih lanjut Kepala Sub-Bidang Organisasi Relawan Kesehatan BKR Satgas Covid-19 dr Jossep Frederick William menjelaskan, pemulasaraan jenazah seyogyanya dilakukan sesegera mungkin, yaitu tidak lebih dari 24 jam setelah kematian.

Selanjutnya jenazah disalatkan sesuai syariat keagamaan, dilakukan proses disinfeksi dan penguburan jenazah yang harus berjarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum dan berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman terdekat.

Adapun jenazah harus dikubur pada kedalaman 1,5 meter lalu ditutup dengan tanah setinggi 1 meter.

Baca juga: Bantu Pemerintah Tangani Covid-19, Waketum PMI Upayakan Mobilisasi Sumber Daya

“Kenapa bungkus plastik itu sangat mutlak dalam proses penanganan jenazah COVID-19? Hal itu untuk menghindari paparan cairan milik jenazah yang masih mengandung virus untuk menginfeksi tenaga pemulasaraan dan lingkungan sekitar,” kata Jossep dalam webinar Relawan Berperan Volume 2: Tatalaksana Pemulasaraan Jenazah Covid-19 (29/7).

Senada dengan paparan narasumber lainnya, Pokjanas PPI Kemenkes RI dr Leli Saptawati SpMK (K) menambahkan mengenai tata cara atau kewajiban yang harus dilakukan bagi relawan pemulasaraan agar tidak terpapar virus dari jenazah Covid-19 yang ditangani.

Menurut standar CDC WHO dan Kementerian Kesehatan RI, petugas pemulasaraan diharuskan memakai Alat Perlindungan Diri (APD), yaitu gaun tahan air dengan lengan panjang berkaret yang dilapisi apron, masker N95 atau masker medis tiga lapis, pelindung mata (kacamata/ face shield), sarung tangan, dan sepatu boots.

Baca juga: Epidemiolog UI: Distribusi Obat Covid-19 Gratis untuk Isoman Bukan Solusi Cerdas

Menilik dari konsep syariat Islam Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Abdul Muiz Ali, menegaskan, penangananan jenazah (tajhiz al-jana’iz) yang terpapar Covid-19 dalam pandangan syara’ termasuk dalam kategori syahid akhirat dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi, yaitu untuk dimandikan, dikafani, disalati, dan dikuburkan dengan teknis pelaksanaan protokol kesehatan ketat untuk menjaga keselamatan petugas pemulasaraan.

"Untuk lebih lengkap, seluruh informasi yang tertuang dapat dibaca dalam Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 Angka 7," kata KH Abdul Muiz Ali.

Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved