Breaking News:

Virus Corona

Tips Pernapasan untuk Menaikkan Saturasi Oksigen

Upaya ini bisa membantu memperbaiki rasa sesak atau bisa juga dengan duduk, kaki menapak di lantai, dan badan dimiringkan ke depan

Twitter/@KemenkesRI
Tips Meningkatkan Saturasi Oksigen dari Kemenkes 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat angka infeksi pada virus SARS-CoV-2 meningkat, masyarakat dibuat resah karena terbatasnya kapasitas oksigen. 

Ada yang harus mengantri sekian lama untuk mendapatkan oksigen. Dampaknya, banyak nyawa yang tidak tertolong. Saat kadar oksigen rendah dan tidak dapat tabung oksigen, sangat dianjurkan untuk ke rumah sakit. 

Namun, menurut dr Santi, jika angka saturasi oksigen di atas 90 masih bisa dilakukan terapi untuk memperbaiki pernapasan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan secara mudah. 

"Pertama, terapi gampang banget. Tarik nafas dari hidung buang lewat mulut. Tetapi ada caranya," ungkap dr Santi dari kanal YouTube Sonora FM, dikutip Tribunnews, Minggu (1/8/2021). 

Mulut harus ditutup secara rapat. Kemudian terus tarik nafas lewat hidung dalam dua hitungan. Kemudian dihembuskan melalui mulut seperti akan bersiul. Dan ini dilakukan dalam empat hitungan.

Baca juga: Permintaan Oksigen di Depot Isi Ulang Matraman Jakarta Timur Mulai Menurun

"Pada pasien saya, saturasi oksigen bisa naik tiga sampai lima. Hanya melakukan hal simple itu. Jangan hanya melakukan sekali, tapi  berkali-kali sampai kondisi membaik.

Bisa pula menggunakan teknik kedua. Yaitu duduk di bangku dan di depannya ada meja. Posisi tubuh duduk di bangku dan badan membungkuk ke depan, tiduran di meja tersebut.

Agar nyaman, letakkan kepala di atas bantal. 

Kata dr Santi, upaya ini bisa membantu memperbaiki rasa sesak atau bisa juga dengan duduk, kaki menapak di lantai, dan badan dimiringkan ke depan.

Tangan boleh diletakkan di paha atau lutut. Kemudian bernafas seperti biasa.

Cara lain, adalah melakukan pernapasan melalui otot mulut. Ketika bernafas, tangan diletakkan di perut. 

Rasakan tarikan dan saat menghela nafas.

Dr Santi mengatakan, yang perlu digerakkan adalah  otot perut bukan otot dada. Berusaha menggunakan otot perut untuk bernafas. 

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved