Breaking News:

Virus Corona

India Keluarkan EUA Untuk Vaksin Sekali Dosis Johnson & Johnson

India memberikan izin penggunaan darurat atau Emrgency Use Authorization (EUA) untuk vaksin covid-19 satu kali suntikan Johnson & Johnson

JUSTIN TALLIS / AFP
Foto ilustrasi Vaksin Covid-19 Johnson. India Keluarkan EUA Untuk Vaksin Sekali Dosis Johnson & Johnson 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - India memberikan izin penggunaan darurat atau Emrgency Use Authorization (EUA) untuk vaksin virus corona (Covid-19) satu kali suntikan Johnson & Johnson, pada Sabtu kemarin.

Ini dilakukan untuk meningkatkan kampanye vaksinasi negara itu seiring munculnya kekhawatiran adanya gelombang infeksi baru.

Dikutip dari laman Channel News Asia (CNA), Minggu (8/8/2021), Menteri Kesehatan India, Mansukh Mandaviya mengatakan EUA itu akan mendorong negara tersebut dalam upaya peningkatkan perang melawan pandemi, di mana setidaknya 200.000 orang tewas selama pertengahan April hingga pertengahan Juni lalu.

"India memperluas keranjang vaksinnya, vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson diberikan izin untuk penggunaan darurat di India," kata Mandaviya, dalam akun Twitter pribadinya.

Baca juga: Hasil Penelitian di AS: Vaksin Johnson & Johnson Kurang Efektif Melawan Varian Delta dan Lambda

Baca juga: 70 Kasus Covid-19 Varian Delta Plus Ditemukan dalam Pengurutan Genom di India

Kendati EUA telah keluar, namun belum ada informasi terkait kapan vaksin asal perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) itu akan tiba di India.

Perlu diketahui, hingga kini negara berpenduduk 1,3 miliar orang ini telah memberikan 500 juta dosis vaksin.

Namun jumlah warga yang telah mendapatkan vaksinasi secara penuh, baru mencapai hampir 8 persen dari total populasinya.

Vaksin Johnson & Johnson merupakan vaksin ke-5 yang diberikan EUA setelah vaksin AstraZeneca yang diproduksi di India dan diberi nama Covishield, Covaxin yang dikembangkan sendiri, Sputnik-V dari Rusia, dan Moderna dari AS.

Sebelumnya, India tetap menjadi negara yang paling terpukul kedua setelah AS, dengan lebih dari 32 juta kasus terkonfirmasi dan 427.000 kematian.

Karena kurangnya pelaporan kasus kepada pemerintah, para ahli menilai jumlah korban Covid-19 di India sebenarnya jauh lebih tinggi.

Mereka juga memperingatkan bahwa kecepatan vaksinasi yang lambat, menempatkan India pada risiko dari setiap munculnya krisis infeksi baru.

Jumlah kasus baru dan kematian bahkan kembali mengalami peningkatan dalam dua pekan terakhir.

Upaya vaksinasi gratis pemerintah sejauh ini sangat bergantung pada Covishield dan Covaxin, sehingga produsen vaksin lokal pun berjuang untuk memenuhi permintaan.

Sedangkan Sputnik-V belum meningkatkan produksinya, begitu pula dengan Moderna.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved