Rabu, 3 Juni 2026

Virus Corona

Selain Delta, Para Ilmuwan Sedang Amati Varian Baru Virus Penyebab Covid-19

Para ilmuwan saat ini memang tetap fokus pada varian Delta yang dominan di dunia, namun terus melacak varian lainnya yang bisa muncul di masa datang.

Tayang:
Freepik
Ilustrasi virus corona. Selain Delta, Para Ilmuwan Sedang Amati Varian Baru Virus Penyebab Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit virus corona (Covid-19) terus berlanjut dan telah melahirkan varian alfabet Yunani, sistem penamaan yang digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melacak mutasi baru virus penyebab COVID-19.

Beberapa mutasi bahkan 'telah melengkapi virus' dengan cara yang lebih baik untuk bisa menginfeksi manusia atau menghindari perlindungan vaksin pada tubuh.

Para ilmuwan saat ini memang tetap fokus pada varian Delta yang menjadi varian dominan Covid-19 di seluruh dunia, namun mereka terus melacak varian lainnya untuk melihat kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.

Baca juga: Tak Seganas Varian Delta, Pemerintah Sebut Varian Mu Belum Ditemukan di Indonesia 

Baca juga: Pakar UGM Sebut Varian Mu Tak Seganas Varian Delta

Apakah varian Delta saat ini masih menjadi yang dominan ?

Varian Delta yang kali pertama terdeteksi di India tetap menjadi varian yang paling mengkhawatirkan.

Pada banyak negara,varian Delta menyerang populasi yang tidak atau belum divaksinasi dan telah terbukti mampu menginfeksi proporsi yang lebih tinggi dari orang yang telah divaksinasi dibandingkan varian sebelumnya.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (9/9/2021), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Delta sebagai 'varian yang mengkhawatirkan.

Ini berarti varian tersebut telah terbukti mampu meningkatkan penularan, menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah serta mengurangi manfaat dari vaksin.

Menurut seorang Ahli Virologi di La Jolla Institute for Immunology di San Diego, Shane Crotty, 'kekuatan super' Delta terletak pada kemampuan penularannya.

Ilustrasi Covid-19  Varian Delta
Ilustrasi Covid-19 Varian Delta (shutterstock)

Peneliti China menemukan bahwa orang yang terinfeksi Delta membawa virus 1.260 kali lebih banyak di hidung mereka dibandingkan dengan versi asli virus corona.

Beberapa penelitian Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa viral load pada individu yang telah divaksinasi namun terinfeksi varian Delta, setara dengan mereka yang tidak divaksinasi.

Namun penelitian lebih lanjut terkait temuan ini masih sangat diperlukan.

Jika dibandingkan virus corona asli yang membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk bisa menyebabkan gejala, Delta dapat menimbulkan gejala dua hingga tiga hari lebih cepat, memberi lebih sedikit waktu bagi sistem kekebalan tubuh untuk merespons dan meningkatkan pertahanan.

Lalu bagaimana dengan varian Lambda ?

Varian Lambda telah menarik perhatian sebagai ancaman baru yang potensial.

Namun versi lain virus corona yang kali pertama diidentifikasi di Peru pada Desember lalu ini tampaknya sedang mengalami penurunan kasus.

Menurut data yang dimiliki GISAID, yakni database yang melacak varian SARS-CoV-2, meskipun kasus yang melibatkan Lambda sempat mengalami peningkatan pada Juli lalu, namun laporan kasus infeksi baru varian ini telah turun secara global selama empat pekan terakhir.

WHO pun mengklasifikasikan Lambda sebagai varian yang menarik.

Ini mengindikasikan bahwa varian ini membawa mutasi yang diduga menyebabkan perubahan penularan atau penyakit yang lebih parah, namun temuan ini masih dalam penyelidikan.

Studi laboratorium menunjukkan Lambda memiliki mutasi yang dapat melawan antibodi yang diinduksi vaksin.

Selanjutnya, bagaimana dengan varian Mu sebagai yang terbaru ?

Mu merupakan varian yang sebelumnya dikenal sebagai B1621 dan kali pertama diidentifikasi di Kolombia pada Januari lalu.

Sementara pada 30 Agustus 2021, WHO menetapkannya sebagai varian yang menarik karena beberapa mutasi terkait.

Mu membawa mutasi kunci, termasuk E484K, N501Y dan D614G yang telah dikaitkan dengan peningkatan penularan dan penurunan terhadap perlindungan kekebalan.

Menurut Buletin WHO yang diterbitkan pada pekan lalu, Mu telah menyebabkan beberapa wabah yang lebih besar di Amerika Selatan dan Eropa.

Sementara jumlah sekuens genetik yang diidentifikasi sebagai Mu telah turun di bawah 0,1 persen secara global.

"Mu mewakili 39 persen dari varian yang diurutkan di Kolombia dan 13 persen di Ekuador, tempat-tempat di mana prevalensinya 'mengalami peningkatan secara konsisten'," kata WHO.

Organisasi itu mengaku saat ini terus memantau Mu untuk melihat perubahannya di Amerika Selatan, terutama di daerah di mana varian ini bersirkulasi bersama dengan Delta.

Kepala Unit Penyakit Baru WHO, Maria van Kerkhove mengatakan bahwa sirkulasi varian tersebut menurun secara global, namun perlu disoroti secara cermat.

Sementara itu, dalam konferensi pers pada pekan lalu, Kepala Penasihat Medis untuk Presiden AS Joe Biden, Dr Anthony Fauci mengatakan para pejabat AS saat ini sedang mengawasi varian itu.

Namun sejauh ini Mu tidak dianggap sebagai ancaman langsung bagi kesehatan warga AS.

Melihat banyaknya varian yang bermunculan, seharusnya mendorong banyak negara mendapatkan cakupan lebih banyak orang untuk divaksinasi.

Para ahli mengatakan bahwa program vaksinasi sangat penting, karena mayoritas orang yang tidak atau belum divaksinasi telah memberikan lebih banyak kesempatan bagi virus untuk bisa menyebar dan bermutasi menjadi varian baru.

Sehingga upaya vaksinasi harus ditingkatkan secara internasional untuk menjaga agar varian baru tidak muncul diantara populasi negara-negara miskin, di mana sangat sedikit orang yang telah diinokulasi.

Kendati demikian, vaksin Covid-19 saat ini diketahui hanya bisa mencegah munculnya gejala penyakit yang parah dan kematian, namun tidak untuk memblokir infeksi.

Hal itu karena virus masih mampu bereplikasi pada hidung bahkan diantara orang yang telah divaksinasi, yang kemudian dapat menularkan penyakit tersebut melalui tetesan kecil aerosol.

Menurut seorang Pengembang Vaksin di Mayo Clinic, Dr Gregory Poland, untuk mengalahkan SARS-CoV-2, dibutuhkan vaksin generasi baru yang juga dapat memblokir penularan.

Sebelum vaksin generasi baru itu muncul, Polandia dan para ahli lainnya mengatakan bahwa dunia akan tetap rentan terhadap munculnya varian baru Covid-19.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved