Breaking News:

Virus Corona

Prof Zubairi Djoerban: Tetap Waspada Terhadap Virus Corona Varian Mu Meski Tak Seganas Varian Delta

Sejauh ini para peneliti menilai varian Mu memiliki kemampuan menurunkan efektivitas vaksin dan telah menyebar di 49 negara.

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat ini virus corona varian Mu menjadi sorotan.

Varian ini diduga akan menjadi sumber masalah yang menyebabkan gelombang baru pandemi Covid-19.

Sejauh ini para peneliti menilai varian Mu memiliki kemampuan menurunkan efektivitas vaksin dan telah menyebar di 49 negara.

Benarkah demikian?

Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban memberi pandangannya dalam sebuh video yang diterima Tribun, Rabu (15/9/2021).

Menurutnya varian Mu bukanlah varian yang baru ditemukan, melainkan ada sejak 8-9 bulan lalu atau tepatnya terdeteksi pertama pada Januari 2021 di Kolombia dan menyebar ke Equador.

Baca juga: SRO Pasar Modal Kompak Sumbangkan Pendapatan di 17 September untuk Penanganan Covid-19

Selama perjalanan varian Mu ini, angka penularannya terhitung kecil atau 0,01 persen.

Meski demikian, kewaspadaan dan antisipasi tetap diperlukan, mengingat kejadian varian delta yang begitu menakutkan.

Lonjakan kasus naik drastis di sejumlah negara bahkan di Amerika Serikat dan Israel yang sebelummya telah memiliki kasus sangat rendah dan cakupan vaksinasi di atas 50 persen.

"Kenapa khawatir dengan varian Mu, karena punya sejarah dari varian Delta kan amat menakutkan. Jadi sekali lagi varian Mu mungkin sekali tidak akan menjadi masalah jangka panjang kita memang perlu antisipasi namun tidak perlu panik," ungkapnya.

Baca juga: Jokowi: Kasus Covid-19 Terus Menunjukkan Trend Penurunan 

Prof Zubairi mengingatkan, varian Mu tidak seganas varian Delta namun lebih serius dari varian Alfa, Beta, maupun Gamma.

"Jadi sekali lagi tidak seserius varian Delta buktinya sampai sekarang pertama prevalensinya rendah sekitar 0,1 persen untuk dunia, yang kedua tidak ada bukti bahwa varian Mu lebih serius dan lebih gawat dibandingkan dengan varian Delta, yang ketiga, kita tetap harus waspada," katanya.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved