Breaking News:

Virus Corona

Pemerintah Inggris Akan Hentikan Pasokan Gratis 'Alat Tes Covid-19 di Rumah'

Pemerintah Inggris memang akan menghentikan pasokan gratis alat tes Covid-19 di rumah, padahal sebelumnya alat tes Aliran Lateral itu didapatkan mudah

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Ilustrasi alat tes Covid-19.Pemerintah Inggris Akan Hentikan Pasokan Gratis 'Alat Tes Covid-19 di Rumah' 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Alat tes aliran lateral rumah yang diproduksi oleh perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat (AS) 'Innova' telah dikritik 'tidak berguna' oleh para akademisi dan pejabat kesehatan senior Inggris.

Penelitian menunjukkan hasil tes dari alat ini 'sangat tidak akurat'.

Pemerintah Inggris memang akan menghentikan pasokan gratis alat tes Covid-19 di rumah, padahal sebelumnya alat tes Aliran Lateral itu dapat diminta secara mudah oleh masyarakat melalui pos maupun apotek di negara itu.

Tujuannya adalah memungkinkan masyarakat mengecek sendiri apakah mereka terinfeksi virus corona, tanpa harus mengunjungi Layanan Kesehatan Nasional (NHS) maupun pusat pengujian swasta.

Dikutip dari laman Sputnik News, Minggu (10/10/2021), sebuah sumber Whitehall yang mendukung langkah tersebut mengatakan skema ini terlihat sia-sia jika dibandingkan dengan keberhasilan program vaksinasi pemerintah.

Karena tingkat penyerapan vaksinasi saat ini telah mencapai sekitar 95 persen diantara mereka yang berusia di atas 65 tahun, kelompok usia ini diketahui paling rentan terinfeksi Covid-19.

"Disepakati bahwa akses universal tidak berkelanjutan atau diperlukan, mengingat tingkat vaksinasi yang tinggi. Kami sekarang perlu memutuskan parameter apa yang seharusnya menjadi akses yang cukup memenuhi syarat untuk pengujian gratis," kata sumber tersebut.

Sementara itu, Departemen Keuangan Inggris dikabarkan turut mendukung langkah tersebut, karena akan membantu memotong anggaran ratusan miliar poundsterling yang dihabiskan untuk mengelola pandemi.

Selain itu, kit tersebut telah dikritik oleh para ahli karena dianggap tidak akurat dan tidak dapat diandalkan dibandingkan dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dijalankan oleh tenaga medis profesional.

Sementara beberapa sekolah negeri di negara itu tidak lagi menerimanya sebagai bukti status anak yang tidak terinfeksi.

Pada awal Januari tahun ini, dua akademisi dan satu pejabat kesehatan senior memperingatkan dalam British Medical Journal bahwa kit itu nyaris tidak berguna, meskipun pemerintah mengklaim kit ini 77 persen akurat.

Mereka merujuk pada satu penelitian di Liverpool yang menemukan tes tersebut memberikan hasil negatif palsu pada 60 persen kasus.

Termasuk sepertiga dari kasus dengan viral load tinggi yang membuatnya lebih menular ke orang lain.

Studi lain yang mereka kutip dari Birmingham menunjukkan hanya 3 persen siswa yang infeksinya telah dikonfirmasi oleh tes PCR, menunjukkan hasil yang positif pula pada kit Innova.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved