Breaking News:

Virus Corona

Relawan Nakes RSDC Wisma Atlet Ungkap Pengalaman Pahit Ketika Melihat Rekannya Wafat Karena Covid

Bagi Nida, tidak ada pengalaman yang lebih pahit daripada melihat rekannya sesama relawan perawat mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan

Penulis: Gita Irawan
Tangkapan Layar
Relawan perawat Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Nida Fadhillah, saat Talkshow Menuju Hari HAM Sedunia 2021 bertajuk Cerita Di Balik Wisma Atlet yang digelar Komnas HAM secara virtual pada Jumat (12/11/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Relawan Tenaga Kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Nida Fadhillah, mengungkapkan pengalaman paling pahitnya selama bertugas kurang lebih 18 bulan sebagai perawat di ruang ICU sejak rumah sakit itu beroperasi. 

Bagi Nida, tidak ada pengalaman yang lebih pahit daripada melihat rekannya sesama relawan perawat mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan covid-19.

Ketika itu, kata Nida, lonjakan kasus gelombang kedua covid-19 terjadi di pertengahan tahun 2021 ini.

Jumlah pasien covid-19 yang dirawat di sana mencapai sekira tujuh ribu orang.

ICU RSDC Wisma Atlet Kemayoran yang sebelumnya hanya merawat beberapa orang, namun kata Nida, saat ini pasien memenuhi dari ujung ke ujung ruangan.

Pasien-pasien tersebut, kata Nida, seluruhnya telah dipasangi ventilator.

Pemandangan itu belum seberapa bagi Nida ketika ada salah satu rekan sesama perawat harus dirawat juga di ICU.

Perawat tersebut, kata Nida, harus memakai alat bantu napas bahkan diintubasi dan dipasangi ventilator.

Baca juga: Relawan Apresiasi Jokowi dalam Tangani Pandemi hingga Pemulihan Ekonomi Nasional

Hal tersebut diungkapkannya saat  Talkshow Menuju Hari HAM Sedunia 2021 bertajuk Cerita Di Balik Wisma Atlet yang digelar Komnas HAM secara virtual pada Jumat (12/11/2021).

"Sampai akhirnya dibuka, kemudian dirujuk, dan akhirnya meninggal. Itu saat terpahit, saat ada rekan sejawat kita yang berjuang melawan covid, akhirnya terpapar covid sampai meninggal. Itu yang paling sedih," kata Nida.

Nida mengungkapkan hal yang membuatnya bertahan bertugas sebagai relawan perawat di RSDC Wisma Atlet Kemayoran adalah karena tenaganya masih dibutuhkan.

Meskipun sejak kasus melandai banyak rekan-rekannya sesama perawat di RSRC Wisma Atlet Kemayoran telah dipurnatugaskan, namun ia bersyukur tenaganya masih dibutuhkan untuk membantu penanganan covid-19 yang sudah sekira 20 bulan melanda Indonesia.

Ia merasa senang sekali bisa membantu penanganan covid-19 sebagai relawan perawat di RSDC Wisma Atlet Kemayoran.

"Alhamdulillah saya masih dipertahankan oleh Wisma Atlet. Jadi kalau saya jadi relawan kan senang banget, karena saya itu kalau misalnya sudah tidak jadi relawan, saya insya Allah tidak berniat lagi kerja di rumah sakit. Tapi kalau saya jadi relawan saya maju," kata Nida.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved