Breaking News:

Virus Corona

WHO: Omicron Memang Kurang Parah dari Delta, Tapi Tetap Bahaya untuk yang Tidak Divaksinasi

Omicron yang diduga sangat menular memang menyebabkan penyakit yang lebih ringan dibandingkan delta. tapi bahaya

AFP/STR
Anggota staf yang mengenakan alat pelindung diri (APD) menyemprotkan desinfektan di luar pusat perbelanjaan di Xi'an di provinsi Shaanxi, China utara pada 11 Januari 2022. (Photo by AFP) / China OUT 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Varian baru virus corona (Covid-19) Omicron yang diduga sangat menular memang menyebabkan penyakit yang lebih ringan dibandingkan strain Delta, namun tetap dianggap sebagai varian berbahaya, terutama bagi mereka yang tidak divaksinasi.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu kemarin.

Baca juga: Kasus Harian Corona Indonesia 12 Januari 2022: Urutan ke-36 Dunia, Tambah 646 Kasus

Baca juga: Setelah Virus Corona, Varian Delta, Omicron, Kini Ada Lagi Varian Baru Corona yang Namanya Deltacron

Dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (13/1/2022), ia mengatakan bahwa ada lebih dari 90 negara yang belum memenuhi target vaksinasi 40 persen dari populasi mereka dan lebih dari 85 persen orang di Afrika yang belum menerima dosis tunggal.

OMICRON - Foto Ilustrasi ini diambil di Toulouse, barat daya Prancis, pada 1 Desember 2021 menunjukkan jarum suntik dan layar yang menampilkan Omicron, nama varian baru covid 19. - Omicron telah menjadi jenis virus corona utama di Prancis di mana jumlah infeksi telah mengalami peningkatan besar dalam beberapa hari terakhir, kata badan kesehatan masyarakat negara itu.
OMICRON - Foto Ilustrasi ini diambil di Toulouse, barat daya Prancis, pada 1 Desember 2021 menunjukkan jarum suntik dan layar yang menampilkan Omicron, nama varian baru covid 19. - Omicron telah menjadi jenis virus corona utama di Prancis di mana jumlah infeksi telah mengalami peningkatan besar dalam beberapa hari terakhir, kata badan kesehatan masyarakat negara itu. "62,4 persen tes menunjukkan profil yang kompatibel dengan varian Omicron" pada awal minggu ini, dibandingkan dengan 15 persen pada minggu sebelumnya, kata agensi tersebut. (Lionel BONAVENTURE / AFP) (AFP/LIONEL BONAVENTURE)

"Kita tidak boleh membiarkan virus ini bergerak bebas, terutama saat begitu banyak orang di seluruh dunia yang tetap tidak divaksinasi," kata Tedros.

Dalam laporan epidemiologi mingguannya pada Selasa lalu, WHO menyampaikan kasus infeksi telah mengalami peningkatan sebesar 55 persen atau 15 juta dalam sepekan hingga 9 Januari lalu dari seminggu sebelumnya.

Sejauh ini, kasus terbanyak dilaporkan dalam satu pekan terakhir.

"Lonjakan besar dalam kasus infeksi ini didorong oleh varian Omicron, yang secara cepat menggantikan dominasi Delta di hampir semua negara," kata Tedros.

Tedros menekankan mayoritas orang yang terinfeksi Covid-19 dan dirawat di rumah sakit di seluruh dunia, ternyata tidak atau belum divaksinasi.

Jika penularan tidak dibatasi, maka ada risiko lebih besar yang akan ditimbulkan varian lainnya yang muncul yang bahkan bisa lebih menular dan lebih mematikan dibandingkan Omicron.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved