Rabu, 6 Mei 2026

Virus Corona

Gangguan Konsentrasi Akibat Long Covid Bisa Sembuh dengan Fisioterapi

Deretan keluhan pasca sembuh Covid-19 masih dijumpai pada penyintas atau yang dikenal dengan Long Covid.

Tayang:
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia Prof Iris Rengganis  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Deretan keluhan pasca sembuh Covid-19 masih dijumpai pada penyintas atau yang dikenal dengan Long Covid.

Setidaknya 30 persen dari pasien mengalami Long Covid, seperti yang disampaikan Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, FINASIM.

"Sampai 30 persen dari orang yang terinfeksi terlepas dari derajat beratnya covid akut," kata dia dalam talkshow virtual, Rabu (2/3/2022).

Ia menerangkan, dalam dampak jangka panjang gejala long covid beragam.

Mulai dari gangguan memori konsentrasi, kelelahan fisik, sesak nafas, juga merasakan nyeri sendi, nyeri otot dan banyak hal lainnya.

Baca juga: Long Covid-19 Dapat Kenai 30 Persen Pasien yang Terinfeksi, Berikut Penanganannya

Prof Iris menuturkan, secara umum gejala Long Covid dapat disembuhkan secara bertahap dengan bantuan fisioterapi.

"Sebagian besar pasien dapat mengalami pemulihan. Jika mengalami keluhan long covid seperti tadi, ada baiknya juga dikonsultasikan ahli di bidang masing-masing sesuai dengan keluhannya," pesan Prof Iris.

Ditambahkan Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prasenohadi, selain kontrol dengan dokter terkait penyintas juga perlu menjaga asupan dengan komsunsi makanan bergizi seimbang, istirahat cukup, serta displin menjalankan protokol kesehatan.

Ia juga mengingatkan, penyintas yang memiliki keluhan gangguan pernafasan pasca sembuh sebaiknya memiliki pulse oxymeter di rumah.

Baca juga: Omicron Sebabkan Long Covid? Ayo Perkuat Daya Tahan Tubuh dengan Habbatussauda

"Penggunaan pulse oximetry di rumah juga menjadi hal yang penting dalam mengukur kadar oksigen," kata dia.

Prasenohadi menyebut, sebagian kecil penyintas memiliki kerusakan yang permanen pada paru-parunya.

"Sehingga dia butuh oksigen yang mungkin seumur hidup," tuturnya Prasenohadi.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved