Breaking News:

Virus Corona

Anak yang Aktif PTM Berisiko Terpapar Covid-19, Ahli Sarankan Sekolah Lakukan Hal Ini

Pakar Epidemiologi Dicky Budiman mengatakan anak-anak dalam kondisi aktif melakukan pembelajaran tatap muka, berisiko terpapar Covid-19

Editor: Adi Suhendi
Dokumentasi pribadi
Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman mengatakan anak-anak dalam kondisi aktif melakukan pembelajaran tatap muka, berisiko terpapar Covid-19. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kehadiran sub varian Omicron BA.5 diprediksi akan meningkatkan kasus infeksi dibandingkan varian Delta.

Di sisi lain, ada beberapa kelompok yang berisiko ketika terinfeksi Covid-19, di antaranya anak-anak.

Menurut pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman, anak-anak dalam kondisi aktif melakukan pembelajaran tatap muka, berisiko terpapar Covid-19.

Hal ini dikarenakan banyak yang belum mendapatkan vaksinasi dosis ketiga.

"Bahkan sebagian belum dapatkan dosis kedua. Ini penting untuk lakukan proteksi segera. Karena aktivitas PTM harus dilakukan, sehingga perlu dijaga agar tetap aman," kata Dicky Budiman kepada Tribunnews, Senin (1/8/2022).

Menjaga PTM tetap kondusif di tengah kenaikan kasus Covid-19 bisa dengan melakukan memberikan proteksi kepada warga sekolah.

Baca juga: Sebaran 3.696 Kasus Covid-19, Senin 1 Agustus 2022, DKI Jakarta Tertinggi Catat 1.486 Kasus

Minimal melakukan vaksin tiga dosis.

Sedangkan pada kelompok orang yang sudah mendapatkan dosis ketiga lebih dari 4 bulan, perlu mendapatkan dosis keempat.

Dicky menyebutkan hal ini merupakan langkah dasar yang harus dilakukan.

Karena prinsipnya, sekolah tatap muka masih berada dalam masa pandemi.

Di sisi lain, sekolah memang harus diupayakan terus berjalan.

Serta, menjadi institusi terakhir yang ditutup sementara, jika, situasi terus memburuk.

"Sekolah prinsipnya tetap harus diutamakan. Dengan pengamanan yang melindungi warga sekolah yaitu vaksinasi, sirkulasi, ventilasi, kemudian perilaku yang meminimalisir penularan atau infeksi. Tidak lupa pula masker, kemudian cuci tangan. Itu yang harus dilakukan," kata Dicky.

Baca juga: Kasus Korupsi Bansos Covid-19 Eks Mensos Juliari Berlanjut, Sudah Masuk Tahap Penyelidikan KPK

Bila terjadi kasus infeksi di sekolah, lakukan penundaan sebagian selama 5-7 hari.

Misalnya, dalam satu kelas ada yang terinfeksi, PTM tidak harus ditiadakan seluruhnya.

Selain melakukan karantina beberapa hari, kelas perlu dilakukan sterilisasi.

Namun, jika sudah terjadi kasus infeksi pada tiga kelas, maka sekolah perlu ditutup sementara.

Setidaknya satu minggu untuk lakukan testing, treacing, dan treatment.

"Selain itu sekolah juga perlu dilakukan evaluasi. Intinya, tetap melakukan pembelajaran. Tapi tingkatkan pengamanan, evaluasi berkala dan koordinasi. Itu yang harus dilakukan," katanya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved