Virus Corona

Selain Indonesia, Angka Kematian Akibat Covid-19 Juga Meningkat di Jepang dan Australia

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyoroti peningkatan angka kematian akibat Covid-19 akhir-akhir ini.

Freepik
ilustrasi virus corona. Selain Indonesia, Angka Kematian Akibat Covid-19 Juga Meningkat di Jepang dan Australia 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyoroti peningkatan angka kematian akibat Covid-19 akhir-akhir ini di tanah air.

Pada (2/8/2022) kemarin, dilaporkan ada 24 orang meninggal dunia akibat Covid-19, ini adalah angka tertinggi dalam 3 bulan terakhir ini.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Kemendikbudristek Upayakan Percepatan Vaksinasi Booster untuk Guru

"Sejak Mei 2022 sampai Juli angkanya selalu dibawah 20 kematian," ujarnya Rabu (3/8/2022).

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini mengatakan, sedikitnya tiga alasan kenapa perlu mewaspadai angka ini.

Pertama adalah trend kecenderungan kenaikan kematian secara terus menerus.

Sepanjang Juni 2022 angka kematian harian selalu di bawah 10 orang, di bulan Juli jadi di atas 10 orang dan di bulan Agustus ini melewati 20 orang.

Baca juga: BREAKING NEWS Update Covid-19 per 2 Agustus 2022: Kasus Harian Naik, Tambah 5.827 Orang

"Kita belum tahu bagaimana di hari-hari kedepan ini," imbuhnya.

Kedua, angka kematian di berbagai negara juga meningkat. Dalam seminggu terakhir angka Kematian harian di Australia rata-rata adalah 94 orang, angka tertinggi negara itu selama pandemi ini.

Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan direktur WHO Asia Tenggara.
Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan direktur WHO Asia Tenggara. (dok. pribadi)

Negara Jepang juga mengalami hal yang sama. Pada 1 Juli 2022 ada 21 orang yang meninggal karena Covid-19, dan di 1 Agustus angkanya meningkat menjadi 94 kematian, naik hampir lima kali lipat. India pada 1 Juni 2022 mencatat 5 kematian dan pada 1 Agustus 2022 naik tinggi menjadi 34 orang.

"Ketiga, sejak awal kita sampaikan bahwa bahkan satu nyawa yang meninggal pun amat berharga dan tidak dapat tergantikan oleh apapun juga," ungkap Prof Tjandra.

Karena tiga hal itu maka perlu meningkatkan kewaspadaan, setidaknya dalam lima hal.

Pertama, Surveilan epidemiologik dijalankan dengan baik, sehingga data dari seluruh pelosok negeri dapat di kompilasi dan di analisa dengan baik.

Kedua, kemampuan testing harus ditingkatkan agar di dapat angka riil jumlah kasus di masyarakat.

Ketiga, telusur/tracing juga harus ditingkatkan, agar dari setiap kasus didapat dua informasi, dari mana tertular dan kemana saja menularkannya.

Empat, vaksinasi booster yang masih dibawah 30 persen jelas harus ditingkatkan maksimal, juga sekitar sepertiga penduduk kita yang belum divaksinasi ke dua harus di kejar benar.

Kelima, melakukan komunikasi risiko dengan baik dengan tiga tujuan.

"Kesatu agar masyarakat mendapat informasi yang tepat, kedua agar masyarakat termotivasi melakukan prokes dengan baik, dan ketiga yang belum di vaksin dan booster agar segera pergi mendapatkannya," jelas dia.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved