Sabtu, 25 April 2026

Presiden Xi Jinping: Pengendalian Covid-19 di China Memasuki Tahap Baru

Sejak saat itu pula, Beijing mengurangi tes Covid-19 terhadap warganya hingga mulai menghapus aturan karantina wajib bagi para pelancong internasiona

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Hendra Gunawan
AFP/JADE GAO
Orang-orang menunggu untuk menemui dokter di klinik demam darurat di sebuah stadion di tengah pandemi Covid-19 di Beijing Desember 2022 lalu. (Photo by Jade GAO / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Presiden China Xi Jinping menyerukan lebih banyak upaya dan persatuan saat negara itu memasuki "fase baru" dalam pendekatannya untuk memerangi pandemi Covid-19.

“Saat ini, pencegahan dan pengendalian Covid-19 sedang memasuki fase baru,” kata Xi dalam sebuah pidato menyambut tahun baru 2023 yang disiarkan televisi pada Sabtu (31/12/2022).

Seperti diketahui, China pada awal Desember 2022 telah mulai melonggarkan aturan ketatnya terkait kebijakan “nol-Covid”.

Sejak saat itu pula, Beijing mengurangi tes Covid-19 terhadap warganya hingga mulai menghapus aturan karantina wajib bagi para pelancong internasional.

Baca juga: Media China Sebut Tes Covid-19 Pelancong dari China di Inggris Diskriminatif

Namun, pelonggaran itu justru berpotensi memicu lonjakan kasus infeksi mengingat kurangnya tes Covid-19 yang dilakukan terhadap penduduk China, terlebih varian Omicron lebih cepat menular.

Dilansir dari Aljazeera, selain memicu lonjakan infeksi Covid-19, pelonggaran kebijakan juga menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam aktivitas ekonomi dan kekhawatiran internasional, dengan Inggris dan Prancis menjadi negara terbaru yang memberlakukan pembatasan pada pelancong dari China.

WHO Desak China Perbarui Data Covid-19 Secara Real Time

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (30/12/2022) melakukan pembicaraan dengan pejabat China, mendesak mereka untuk memperbarui dan berbagi data Covid-19 secara real time.

Melansir dari Channel News Asia, pembicaraan itu terjadi setelah direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Desember 2022 lalu meminta Pemerintah China untuk lebih terbuka mengenai situasi pandemi Covid-19 di negara tersebut.

"WHO kembali meminta kami untuk berbagi data spesifik dan real time secara teratur tentang situasi epidemiologi, termasuk lebih banyak data pengurutan genetik, data tentang dampak penyakit termasuk rawat inap, rawat inap di unit perawatan intensif, dan kematian," kata Komisi Kesehatan Nasional China.

Komisi Kesehatan Nasional China menambahkan bahwa WHO juga meminta data terkait vaksinasi yang diberikan dan status vaksinasi, terutama pada orang yang rentan dan mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved