Virus Corona

Capai Rekor, Jumlah Kematian Akibat Covid-19 China Nyaris Tembus 60.000 Kasus

Semua kematian yang dilaporkan itu terjadi di rumah sakit. Maka, kemungkinan ada kematian di tempat lain hingga jumlahnya bisa lebih banyak lagi.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Willem Jonata
Freepik
Ilustrasi virus corona 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - China telah mengkonfirmasi kasus kematian akibat virus corona (Covid-19) yang 'jauh lebih banyak' dibandingkan sebelumnya.

Negara itu melaporkan bahwa hampir 60.000 orang telah meninggal akibat virus tersebut dalam lima minggu terakhir dan mengakui bahwa jumlah korbannya kemungkinan bertambah.

Komisi Kesehatan Nasional (NHC) mengumumkan pada Sabtu kemarin, ada 59.938 kematian terkait Covid-19 di China sejak 8 Desember 2022 hingga 12 Januari 2023.

Dari jumlah itu, 5.503 orang meninggal karena gagal nafas yang disebabkan langsung oleh virus, sementara 54.435 lainnya meninggal karena menderita Covid-19 dan penyakit yang mendasarinya.

Baca juga: Masyarakat China Tak Percaya Jumlah Kematian Baru Akibat Covid-19 Hampir Mencapai 60.000 Orang

Dikutip dari laman Russia Today, Minggu (15/1/2023), semua kematian yang dilaporkan itu terjadi di rumah sakit, ini mengindikasikan bahwa angka tersebut tidak termasuk kemungkinan jumlah yang signifikan dari orang yang meninggal di rumah atau di tempat lainnya.

Pejabat China pun mendapat kecaman karena gagal bersikap transparan tentang lonjakan kasus Covid-19 yang dilaporkan membuat rumah sakit dan krematorium kewalahan dalam beberapa pekan terakhir.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) misalnya, lembaga tersebut mengklaim pada awal pekan ini bahwa China secara drastis tidak melaporkan kasus kematian akibat virus tersebut.

NHC mengklaim pada Sabtu kemarin bahwa kriteria pelaporannya saat ini sejalan dengan yang digunakan oleh WHO dan negara-negara besar.

5.503 kematian langsung akibat Covid-19 yang dilaporkan selama lima minggu terakhir, melebihi total kumulatif 5.272 yang sebelumnya diumumkan China sejak virus itu kali pertama terdeteksi di pusat kota Wuhan pada akhir 2019.

Lebih dari 90 persen dari 59.938 kasus kematian terkait Covid-19 terjadi pada orang dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti kanker atau penyakit jantung, dan rata-rata korban berusia di atas 80 tahun.

"Puncak darurat dari lonjakan Covid-19 China tampaknya telah berlalu," kata NHC.

Ada 105.000 pasien Covid-19 yang sakit kritis di rumah sakit per 12 Januari 2023, angka ini turun 18 persen dari minggu sebelumnya.

Lalu lintas juga melambat di klinik demam dan ruang gawat darurat.

"Sementara itu, klinik rawat jalan 'pada dasarnya' telah kembali ke tingkat lalu lintas sebelum lonjakan," kata pejabat NHC Jiao Yahui.

Sebelum pengumuman terbaru China, WHO telah mematok kematian kumulatif akibat Covid-19 di China sebesar 33.698, atau hanya satu per 322 infeksi.

Angka baru itu akan mendorong jumlah kematian menjadi 93.636.

Sebagai perbandingan, AS yang memiliki populasi kurang dari seperempat jumlah penduduk China, telah melaporkan hampir 1,09 juta kasus kematian akibat Covid-19.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved