DPR RI

Penyelenggaraan Haji Banyak Kekurangan, Komisi VIII DPR RI Bahas RUU PIHU

Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh (PIHU) telah dibahas Komisi VIII DPR RI bersama dengan Kementerian Agama, dan DPD.

Penyelenggaraan Haji Banyak Kekurangan, Komisi VIII DPR RI Bahas RUU PIHU
dpr.go.id
Wakil ketua Komisi VIII, Iskan Qolba Lubis di Gedung Nusantara II DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/10/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh (PIHU) telah dibahas Komisi VIII DPR RI bersama dengan Kementerian Agama, dan DPD.

Menurut Wakil ketua Komisi VIII, Iskan Qolba Lubis, substansi dari RUU PIHU ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji.

“Selama ini banyak kekurangan dalam penyelenggaraan haji dan umroh, untuk itu aturan lama yaitu UU No. 13 tahun 2008 perlu diganti,” kata Iskan di Gedung Nusantara II DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/10/2016).

Iskan juga berpendapat bahwa salah satu penyebab belum optimalnya penyelenggaraan haji, disebabkan bertumpuknya kewenangan di tangan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama.

“Selama ini Kementerian Agama berperan sebagai regulator, eksekutor, dan kontrol (pengawas). Hal itu membuat tidak efektif, efisien, dan rawan terjadinya penyimpangan,” jelas Legislator PKS dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara II ini.

Menurut Iskan, pemerintah harus memahami isu yang berkembang di masyarakat mengenai tuntutan optimalisasi penyelenggaraan haji.

“Dalam berbagai forum DPR terus menyuarakan bagaimana penyelenggaraan haji harus lebih optimal lagi,” jelas Iskan.

Di sisi lain, DPR memahami kekhawatiran Kementerian Agama mengenai pembentukan badan dalam penyelenggara ibadah haji.

Tentu pembentukan badan ini, tambah Iskan, akan membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyesuaikan dengan sistem yang baru.

Namun, menurut Iskan, adanya badan dalam penyelenggaraan haji tersebut bisa menjadikan pelaksanaan lebih profesional.

Salah satunya dalam sistem rekrutmen sumber daya manusia.

“Dalam hal rekrutmen misalnya, pasti ada perbedaan antara pemerintah dengan badan. Jika dilakukan oleh suatu badan maka akan cenderung lebih bebas, sehingga lebih berkualitas. Sehingga menghilangkan konotasi adanya bagi-bagi jatah dari orang-orang kementerian agama,” papar Iskan.

Iskan juga mengatakan, harapan untuk optimalisasi penyelenggaraan haji bisa terwujud, salah satunya melalui pengelolaan dana haji secara profesional.

“Jika dana pengelolaan haji sudah profesional maka akan lebih baik lagi penyelenggaraan haji ke depan,” pungkas Iskan. (Pemberitaan DPR RI) 

Editor: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved