Jumat, 23 Januari 2026

Dua Korea Bersitegang

Australia Minta China Tegur Korut

Pemerintah Australia meminta reaksi yang lebih keras dari China dalam menanggapi serangan artileri Korut ke Korsel, Selasa (23/11/2010).

Editor: OMDSMY Novemy Leo
TRIBUNNEWS.COM, AUSTRALIA --- Pemerintah Australia meminta reaksi yang lebih keras dari China dalam menanggapi serangan artileri Korea utara (Korut) KE Korea Selatan (Korsel), Selasa (23/11/2010).

Permintaan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Kevin Rudd, dalam wawancara dengan Radio ABC, pekan lalu, dan dikutip kantor berita Associated Press. Sejalan dengan sikap Korsel dan AS, Rudd menginginkan peran China yang lebih besar dalam menciptakan stabilitas di semenanjung Korea, mengingat China adalah sekutu Korut.

“Memang Korut tidak akan melompat ketika China bilang lompat, karena Korut merupakan entitas negara yang memiliki politik yang mandiri. Namun dalam hal ini, China memiliki pengaruh yang cukup besar,” ujar Rudd.

Pulau Yeonpyeong di Korsel hancur lebur akibat dibombardir ratusan artileri Korut Selasa lalu. Dua orang tentara dan dua orang warga sipil tewas dalam serangan tersebut. Korban luka-luka mencapai 18 orang, pulau itu kini ditinggalkan penduduknya mengungsi.

Rudd memuji reaksi Korsel yang tenang dan kepala dingin dalam menghadapi agresi dari Korut, sementara itu dia mengatakan bahwa tindakan Korut adalah provokasi yang gila.

China dinilai tidak memberikan reaksi yang cukup keras. China menanggapi reaksi ini dengan bersikap netral dan tidak mengecam aksi yang dilakukan oleh Korut. “Saya yakin saat ini penting sekali China menggunakan pengaruhnya untuk mendekati Korut,” ujar Rudd.

Serangan Korut itu adalah serangan pertama Korut ke pemukiman sipil sejak Perang Korea 1950-1953. Akibat serangan ini, Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young mengundurkan diri.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved