Breaking News:

Krisis Libya

Mahasiswa Indonesia di Libya: Indonesia Paling Ramah

Kemelut di Libya berdampak pula pada mahasiswa Indonesia yang belajar di negara minyak tersebut. Situasi mencekam dan

zoom-inlihat foto Mahasiswa Indonesia di Libya: Indonesia Paling Ramah
telegraph.co.uk/ap
Pasukan pemberontak terus melancarkan serangan ke kubu pemerintah Libya di Tripoli

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kemelut di Libya berdampak pula pada mahasiswa Indonesia yang belajar di negara minyak tersebut. Situasi mencekam dan tidak kondusif di ibu kota negara, Tripoli, membuat segala aktivitas di kota yang sebelumnya aman ini menjadi kacau balau. Termasuk berhentinya perkuliahan di universitas yang ada di ibu kota negara tersebut.

Akibatnya, lima mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Islamic Call College atau Universitas Dakwah Islamiyah terpaksa kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Gelar Digjaya Muhammad (22) dan Hendi Nugraha (23) adalah mahasiswa yang ikut rombongan evakuasi WNI tahap kedua dari Libya. Keduanya berstatus sebagai mahasiswa di universitas khusus mahasiswa asing yang berlokasi di Tripoli ini. Kondisi Libya yang kian tidak jelas membuat keduanya terpaksa melanjutkan kuliah di Unpad.

"Kebetulan saya asli Bandung. Selain itu Unpad juga salah satu universitas terbaik di Indonesia. Jadi, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di sini," kata Gelar saat ditemui di ruang Humas Unpad, Jalan Dipatiukur, Rabu (24/8).
Menurut mahasiswa jurusan Keuangan dan Ilmu Ekonomi angkatan 2008 di Islamic Call College ini, kondisi di Tripoli kian mencekam hingga memengaruhi segala aktivitas di sana. Karena dinilai semakin tidak kondusif, ia dan rekan-rekan sesama mahasiswa asal Indonesia ikut dalam evakuasi keluar dari negara tersebut.

Beruntung Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama memberikan kemudahan bagi mereka untuk bisa melanjutkan kulaih di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Gelar dan Hendi memilih melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan di Unpad.

"Tapi sekarang masih penyesuaian akreditasi," ujar lelaki lulusan SMAN 5 Bandung ini.

Menurut Gelar dan Hendi, mereka kuliah di Libya karena mendapat beasiswa dari pemerintah Libya. Mereka mendapat beasiswa ini melalui jalur Muhammadiyah dan Persis. Selain beasiswa kuliah, mereka juga dapat akomodasi selama kuliah di Libya.

Meski mengaku nyaman dengan kehidupan di Libya, krisis di negara tersebut membuat keduanya harus meninggalkan perkuliahan, padahal saat itu mereka tinggal mengikuti beberapa ujian mata kuliah.

Tidak bisa menyelesaikan kuliah di Libya juga disesali Hendi, mahasiswa asal Tasikmalaya, yang juga adik kelas Gelar. Sudah dua kali Ramadan ia jalani di Tripoli. Kultur warga setempat membuat ia dan Gelar merasa nyaman. Selain itu, banyak pengalaman yang ia peroleha selama tinggal di negara di bawah kepemimpinan Khadafy ini.

"Alhamdulilah, adaptasi di Libya tidak sulit, termasuk menyesuaikan makanan. Makanya akibat krisis Libya, saya sesali juga tapi kita juga tidak punya pilihan lain," ujarnya.

Tentang kehidupan warga Libya dan sikap mereka terhadap warga asing, menurut Gelar, orang Libya cukup menerima kehadiran warga asing. Sikap mereka cenderung cuek dan keras, tapi khusus kepada orang Indonesia, mereka punya penilaian sendiri.

"Mereka menyebut, Indonesia mia-mia, maksudnya paling ramah. Jadi kehadiran kami tidak masalah bagi mereka. Orang Indonesia paling dinilai baik," kata Gelar.

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved