Breaking News:

Si Cantik Asal Aceh Ini Jadi yang Terbaik di Program Kementrian Luar Negeri Jepang

Terpilih oleh kementerian luar negeri Jepang (MOFA) dalam program Jenesys2.0Asean, membuat gadis cantik asal Aceh bahagia bukan main. Siapa dia?

zoom-inlihat foto Si Cantik Asal Aceh Ini Jadi yang Terbaik di Program Kementrian Luar Negeri Jepang
Richard Susilo
Jehan Maisarah

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Terpilih oleh kementerian luar negeri Jepang (MOFA) dalam program Jenesys2.0Asean, membuat gadis cantik asal Aceh bahagia bukan main. Ia menjadi satu di antara peserta program terbaik dikirim secara gratis ke Jepang.

Dia adalah Jehan Maisarah, kelahiran Aceh 15 Juli 1991. Jehan masih tercatat sebagai mahasiswi Syiah Kuala University Aceh. Berbekal kepintaran dan kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, Jehan terpilih di antara 24 siswa Indonesia yang menjadi peserta program. Ia tiba di Tokyo sejak 11 Maret dan akan pulang pada 20 Maret.

"Saya senang sekali berada di Jepang ini, pertama kali dan banyak pengalaman berharga saya peroleh selama seminggu di Jepang khususnya terkait dengan bidang perlindungan bencana alam dan keadaan darurat banyak dipelajari di Jepang ini," paparnya khusus kepada Tribunnews.com malam ini (19/3/2014).

Meski sangat menyukai Jepang, Jehan tetap ingin mengabdi di Indonesia sebagai Guru bahasa Inggris di masa depan.

"Ya cita-cita saya memang demikian," tekannya lagi.

Jehan menceritakan pengalamannya saat tsunami menyapu Aceh di masa lalu. Ia merasa bersyukur, seluruh keluarganya selamat dari bencana tersebut.

"Kami banyak belajar dari kejadian bencana alam tersebut dan kini saya banyak belajar dari Jepang, semoga bisa diterapkan di Indonesia ilmu yang saya peroleh di Jepang ini."

Jehan memang sempat mendatangi sejumlah pusat pendidikan bencana alam di Jepang di antaranya Kota Tokyo, Kota Asahi, dan Kota Chosi. Selama seminggu di sana, Jehan mengaku mendapat banyak pengalaman dan pelajaran baru. Satu di antaranya adalah etos kerja.

Jehan menilai orang Jepang adalah pekerja keras mulai dari pagi sampai malam. Hal ini, katanya, berbeda dari etos orang Indonesia yang seolah hanya punya jam kerja pendek. Perbedaan juga terlihat dari cara mereka menghargai waktu. Orang Jepang, katanya, punya sangat tepat waktu.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved