Anak-Anak Bos Google dan Apple Justru Main Tanah di Sekolah

Orangtua di zaman kiwari, mungkin bakal merasa malu jika anak-anaknya gaptek atau belum memiliki dan bisa mengoperasikan segala perangkat digital

Anak-Anak Bos Google dan Apple Justru Main Tanah di Sekolah - waldorf2.jpg
Net
Seorang siswi Waldorf School of the Peninsula menggunakan papan dan kapur tulis.
Anak-Anak Bos Google dan Apple Justru Main Tanah di Sekolah - waldorf3.jpg
The New York Times
Anak-Anak Bos Google dan Apple Justru Main Tanah di Sekolah - waldorfff.jpg
Anak-Anak Bos Google dan Apple Justru Main Tanah di Sekolah - waldroff.jpg

Laporan Wartawan Tribunnews.com Reza Gunadha

TRIBUNNEWS.COM, CALIFORNIA - Orangtua di zaman kiwari, mungkin bakal merasa malu jika anak-anaknya gaptek atau belum memiliki dan bisa mengoperasikan segala perangkat digital semisal telepon seluler pintar maupun komputer.

Sebabnya, kehidupan pada era kekinian kental dengan nuansa komputerisasi. Bahkan, ada anekdot awam yang mengatakan manusia kini tak bakal bisa hidup tanpa seperangkat gadget untuk mengakses dunia maya.

Namun, fakta yang mengejutkan adalah, mayoritas petinggi maupun karyawan perusahaan gadget maupun portal raksasa dunia maya semisal E-bay, Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard, justu tak menginginkan anaknya mengenal semua perangkat digital itu pada usia dini.

Bahkan, mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah prestisius yang dikenal tak mau memakai perangkat digital maupun komputer dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Sekolah itu, bernama "Waldorf School of the Peninsula", Amerika Serikat.

"Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa anda membutuhkan bantuan teknologi digital di sekolah dasar," tegas Alan Eagle, Executive Communications Google.

Karena alasan itu pula, ia menyekolahkan putrinya, Andie, di Waldorf School yang mengandalkan filosofi pendidikan itu harus "memanusiakan manusia".

Seperti dikutip dari The New York Times, kelas-kelas belajar di Waldorf tampak seperti kelas klasik. Tak ada perangkat elektronik, komputer, maupun "tablet" untuk membuka buku elektronik.

Kelas-kelasnya justru berdinding kayu. Mereka juga menggunakan papan dan kapur tulis, buku-buku eksiklopedia, dan buku tulis biasa serta pensil. Para siswa juga secara rutin belajar dan bermain di tanah lapang maupun lahan bercocok tanam milik sekolah.

Andie, putri Eagle yang duduk di kelas V, masih mendapat pelajaran kerajinantangan, yakni membuat kaos kaki. Merajut, menurut guru Waldorf, mampu membantu anak-anak belajar memahami pola dan matematika.

Menggunakan jarum dan benang, dapat mengasah kemampuan siswa memecahkan masalah dan belajar koordinasi.

Cathy Waheed, guru kelas Andie, mengajarkan matematika kepada anak-anak dengan cara sederhana. Ia menggunakan buah-buahan, kue atau roti yang dipotong-potong.

“Saya yakin, dengan cara ini, mereka bisa secara mudah menguasai matematika," tutur Waheed.

Ia mengatakan, mengajarkan siswa menggunakan komputer tak akan membuat mereka lebih pintar.

"Tak ada satu pun penelitian ilmiah yang membuktikan komputer bisa membuat anak-anak pintar. Pendidikan, harus ditujukan sebagai proses anak-anak mengenal diri maupun dunianya secara bebas melalui metode-metode ilmiah," tandasnya.

Tags
California
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved