Putus Asa dengan Penyakit Langka Leher Bengkok, Orangtua Berharap Anaknya Mati
Penyakit langka itu membuat lehernya bengkok dan kepala tampak seperti menggantung di tubuhnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dipastikan setiap orangtua menginginkan anak-anak yang sehat dan aktif. Namun bagaimana jika takdir berkata lain. Mahendra Ahirwar (12) menderita satu penyakit langka.
Penyakit langka itu membuat lehernya bengkok dan kepala tampak seperti menggantung di tubuhnya. Kondisi fisiknya pun lemah sehingga ia tidak mampu berdiri ataupun berjalan.
Mahendra hanya bisa duduk dan merangkak. Untuk makan dan pergi ke toilet ia harus dibantu oleh keluarganya.
Kondisi Mahendra ini membuat kedua orangtuanya putus asa. Karena keputus-asaan dan tidak tega melihat penderitaan sang anak, Mukesh Ahirwar dan Sumitra Ahirwa yang berasal dari Madya Pradesh India Tengah ini berharap anaknya mati.
"Kami lebih memilih dia mati daripada menderita seperti ini. Melihat hidupnya saat ini kampi tidak sanggup,"ungkap mereka seperti yang diberitakan oleh Daily Mail.
Sehari-hari Mahendra hanya bisa duduk di sudut ruangan rumah mereka. Ia tidak bisa melakukan aktivitas harian sendiri. Saat bepergian keluar rumah, Mahendra harus digendong oleh orangtuanya.
"Jika dokter sudah tidak bisa memberikan pengobatan. Biarlah Tuhan mengambilnya,"sebut Sumitra.
Selain Mahendra, keluarga ini memiliki tiga anak yang sehat. Dua putra yang berumur 16 tahun dan 10 tahun serta seorang putri yang berusia 14 tahun. Ia mengaku tidak mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin saat hamil Mahendra.
Mukesh menambahkan anak-anak kami yang lain lahir dengan normal dan tidak ada masalah kesehatan. Jadi mereka tidak terpikir untuk mengunjungi dokter selama hamil ataupun melakukan USG.
Pasangan ini baru menyadari kondisi kepala anaknya ini saat ia berusia 6 bulan. Kepala Mahendra tidak bisa berdiri tegak.
"Kami pikir awalnya hanya karena belum kuat. Namun hingga usia 3 tahun kondisi itu masih terus berlanjut,' ujarnya.
Mukesh sehari-hari bekerja sebagai buruh. Untuk biaya pengobatan Mahendra ia meminjam uang dari teman-teman dan kerabat. Namun sejak dua tahun lalu ia memutuskan untuk berhenti untuk membawa Mahendra ke dokter.
"Saya sudah membawa dia ke semua rumah sakit yang kami mampu. Tapi semua dokter mengatakan jika anak kami tidak bisa diobati," katanya.
Dengan kecewa dan putus asa mereka kemudian kembali ke rumah dan berusaha untuk memberikan Mahendra kehidupan yang nyaman semampu mereka.(Sesri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kepala-menggantung-nih2_20150418_164340.jpg)