Logo Olimpiade Tokyo Jepang Semakin Diributkan
Perancang Logo Olimpiade Tokyo 2020 tetap belum mau mengakui kalau logo Olimpiade Tokyo 2020 menyontek dari logo sebuah teater di Belgia
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perancang Logo Olimpiade Tokyo 2020 tetap belum mau mengakui kalau logo Olimpiade Tokyo 2020 menyontek dari logo sebuah teater di Belgia, karya perancang Olivier Debie. Kini Olivier menuntut Komite Olimpiade International (IOC) dan Panitia Olimpiade 2020 Tokyo kepusingan.
"Semakin pusing kita dengan tuntutan Olivier atas logo Olimpiade Tokyo 2020 kepada IOC dan pihak IOC akan melakukan penyelidikan lebih lanjut," papar sumber Tribunnews.com Selasa (18/8/2015) ini.
Perancang logo Olimpiade Tokyo 2020 adalah Kenjiro Sano tetap bersikukuh menyatakan rancangannya asli dari ide dia sendiri.
Padahal minggu lalu (14/8/2015) dia telah mengakui desain logo untuk sebuah perusahana minuman besar di Jepang adalah duplikasi sehingga menarik balik desainnya tersebut. Namun dia tidak meminta maaf apa pun kepada masyarakat atas
perbuatan tersebut.
Kini masalah logo Olimpiade Tokyo 2020 semakin besar dan semakin banyak terungkap di mana banyak karya Sano melakukan duplikasi, lalu membuat untuk produk perusahaan Jepang, mendapat jutaan yen dari desainnya tersebut.
Dunia internet Jepang pun semakin panas dan semakin mengejek Sano dengan karya mereka memplesetkan desain Sano beraneka ragam.
Olivier sejak 14 Agustus lalu secara resmi telah menuntut IOC agar menarik balik logo Olimpiade Tokyo 2020 dan apabila tidak melakukan hal tersebut, Olivier serius akan menuntut ke pengadilan kasus duplikasi ini.
Pihak Panitia Olimpiade Tokyo 2020 sendiri telah berusaha menjelaskan rincian arti logo tersebut, "Tapi pihak Olivier tampaknya tidak mendengarkan penjelasan pihak Jepang," tambah sumber itu lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/logo-olimpiade-tokyo_20150818_082927.jpg)