Mengenang Ledakan PLTN Fukushima

Warga Fukushima Jepang Sempat Didiskriminasi Pascaledakan PLTN

Seorang warga Fukushima dari daerah Sasaya ternyata sempat mengalami diskriminasi akibat ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima.

Warga Fukushima Jepang Sempat Didiskriminasi Pascaledakan PLTN
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Naomi Sato warga Fukushima 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang warga Fukushima dari daerah Sasaya ternyata sempat mengalami diskriminasi dari warga lain di luar Tohoku, karena adanya ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima, 11 Maret 2011.

"Saya dan keluarga sempat mengalami diskriminasi. Bahkan sampai sekarang kalau sebut saya dari Fukushima masih ada yang kaget, nggak apa-apa kamu, tanya mereka," ungkap Naomi Sato, warga Sasaya Fukushima yang bekerja sebagai penerjemah Jepang-Inggris, khusus kepada Tribunnews.com, Selasa (15/3/2016).

Perasaan didiskriminasi tersebut terlebih dirasakan kedua putrinya saat diungsikan ke Hokkaido setahun kemudian.

"Putri saya ditanya temannya dan mereka seolah menghindar takut terkena radiasi mungkin," tambahnya.

"Saat gempa bumi tsunami dan ledakan nuklir kita tak tahu apa yang terjadi karena semua listrik mati. Barulah di hari ketiga dengan generator listrik sendiri memasang televisi kaget sekali radiasi di tempat saya tinggi karena ledakan nuklir tersebut," jelasnya.

Naomi Sato sekeluarga berpikir untuk mengungsi. Lalu seminggu mengungsi dan sekitar 24 Maret kembali lagi karena Pemerintah Jepang di bawah partai Demokrat (DPJ) mengatakan bahwa wilayah tersebut aman.

"Ternyata data pembangkit listrik nuklir yang dikelola Tepco belakangan diketahui bohong dan kita sempat bingung. Oleh karena itu paling penting kami pikirkan adalah anak saya diungsikan dulu agar terjauhkan dari radiasi," kata Sato.

"Dampak lebih lanjut ke luar kampung halaman malahan didiskriminasi warga daerah lain," kata Sato yang tinggal 60 menit bermobil dari lokasi bencana nuklir.

Akhirnya anaknya diungsikan ke Hokkaido. Kini yang paling besar sudah bekerja di Sendai dan si bungsu di Universitas Hokkaido.

Saat ini Fukushima menurutnya kembali normal kecuali daerah ledakan masih beradiasi cukup tinggi.

Sato pun mengatakan tidak pernah mendapat subsidi dari Pemerintah.

"Hanya orang yang tinggal 20 kilometer dari lokasi ledakan nuklir saja. Saya dan keluarga sana sekali tidak mendapat bantuan apapun dari Pemerintah setempat," katanya.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved