Mengenang Ledakan PLTN Fukushima

Masyarakat Fukushima Jepang Menentang Penggunaan Nuklir di Wilayahnya

Penduduk Perfektur Fukushima menentang penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) karena pernah terjadi ledakan nuklir di daerah tersebut.

Masyarakat Fukushima Jepang Menentang Penggunaan Nuklir di Wilayahnya
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Seiichi Suzuki, President Fukushima Airport Mega Solar (Fukushima Hatsuden) Co.Ltd. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penduduk Perfektur Fukushima menentang penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) karena pernah terjadi ledakan nuklir di daerah tersebut.

"Tidak mungkin, masyarakat Perfektur Fukushima sudah pasti menentang penggunaan PLTN untuk masa depan. Jadi penggunaan energi terbarukan akan jadi pilihan masyarakat nantinya," kata Seiichi Suzuki, President Fukushima Airport Mega Solar (Fukushima Hatsuden) Co.Ltd.khusus kepada Tribunnews.com baru-baru ini.

Menurut mantan anggota parlemen Fukushima yang baru saja terpilih sebagai President Fukushima Hatsuden Co.Ltd ini, masyarakat Fukushima sudah menderita dengan dampak ledakan nuklir yang bisa mencapai 30 tahun mendatang.

"Ledakan nuklir membuat korban sengsara sampai sedikitnya 30 tahun dan hal itu jelas tidak akan mau diterima masyarakat Fukushima untuk masa depan dengan energi nuklir tersebut. Oleh karena itu perusahaan kami dengan tenaga matahari dan tenaga terbarukan lain untuk menghidupi Fukushima saat ini dan mendatang," tambahnya.

Perusahaan dengan modal dasar 98,5 juta yen ini bekerjasama dengan Tohoku Solar Power terutama menerangi Bandara Fukushima dan sekitarnya.

"Dari banyak panel solar yang dipakai di sini, kita menggunakan secara bersamaan berbagai merek dan dari berbagai negara sebagai perbandingan satu sama lain. Nantinya setelah beberapa tahun kan terlihat sendiri, bukti nyata, mana yang baik dan mana yang buruk," jelasnya.

Tribunnews.com berkesempatan melihat langsung bervariasinya panel solar di tempatnya saat ini, buatan Jepang dan China, yang dibuat oleh 11 merek terkenal di Jepang termasuk Sharp dan Toshiba salah satunya.

Dengan energi terbarukan, risiko sangat kecil yang dihadapi manusia.

"Tinggal kita pikirkan nantinya daur ulang barang yang telah usang tak terpakai itu setelah puluhan tahun digunakan," kata dia.

Yang pasti tidak merusak manusia seperti radiasi yang menghantam manusia saat ledakan PLTN 11 Maret 2011 lalu dan sampai kini masih tinggi radiasi di sekitar dekat PLTN Fukushima, mencapai ratusan mikro sievert per jam.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved