Operasi menumpas Abu Sayyaf, 12 tentara Filipina tewas
Setidaknya 12 tentara Filipina dan sebelumnya 21 anggota militan Abu Sayyaf tewas dalam operasi yang dipicu pemenggalan sandera sipil yang keluarganya terlalu miskin untuk membayar uang tebusan.
Hari paling mematikan bagi pasukan Filipina sejak Presiden Rodrigo Duterte terpilih pada bulan Mei.
Setidaknya 12 tentara Filipina tewas dalam pertempuran sengit melawan militan Abu Sayyaf, demikian kata militer Filipina.
Itu berarti, Senin (29/8) itu adalah hari paling mematikan bagi pasukan Filipina sejak Presiden Rodrigo Duterte terpilih pada bulan Mei.
Abu Sayyaf adalah kelompok jihad terkecil namun paling kejam di Filipina selatan.
Mereka terkenal karena bukan hanya menyerang tentara, namun juga menculik warga sipil untuk dimintai uang tebusan - sebagaimana yang mereka lakukan terhadap sejumlah pelaut warga Indonesia.
Mereka juga dikenal akan kekejamannya dalam memenggal tentara Filipina, ataupun sandera warga sipil yang tenggat waktu pembayaran tebusannya lewat.
- Kelompok terkait ISIS jebol penjara Filipina
- Perang narkoba di Filipina: Perempuan yang membunuh para pengedar
Seorang juru bicara militer dikutip oleh laman beritaInquirer mengatakan bahwa para prajurit itu tewas saat memerangi sekitar 70 anggota kelompok Abu Sayyaf di dekat kota Barangay Maligaya, di selatan Filipina.
Setidaknya lima tentara terluka juga dalam pertempuran Senin itu.
- Lima hal tentang kelompok Abu Sayyaf di Filipina
- Lagi, WNI sandera Abu Sayyaf berhasil melarikan diri
- Kisah pembebasan WNI yang disandera Abu Sayyaf pada 2005
- Muslim atau bukan, tidaklah penting bagi Abu Sayyaf
- Filipina tak anjurkan RI bayar tebusan guna bebaskan sandera
Pada hari Minggu (28/8) delapan militan Islam yang berbaiat kepada apa yang disebut Negara Islam (ISIS) dibebaskan dari penjara Lanao del Sur di selatan Filipina yang dijebol oleh setidaknya 20 orang bersenjata dari kelompok Maute.