Kampanye Polisi Jepang, Melarang Calo Berkeliaran Menegur Pejalan kaki

UU baru mulai berlaku 1 April 2017 ini melarang para calon menawarkan apa pun kepada para pejalan kaki

Kampanye Polisi Jepang, Melarang Calo Berkeliaran Menegur Pejalan kaki
Asahi
Parade kepolisian dan masyarakat Jepang kemarin malam (7/4/2017) di daerah huburan Roppongi Tokyo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebanyak kira-kira 130 orang berparade, baik polisi maupun anggota masyarakat untuk mengkampanyekan UU baru yang melarang calo berkeliaran menegur para pejalan kaki di Jepang.

"UU baru mulai berlaku 1 April 2017 ini melarang para calon menawarkan apa pun kepada para pejalan kaki di mana pun di Jepang. Jadi kalau pejalan kaki merasa jadi korban, atau pun tidak suka, dapat langsung melaporkan kepada polisi dan polisi dapat menangkap calo tersebut segera," papar sumber Tribunnews.com Sabtu ini (8/4/2017).

Kepala Kantor Polisi Azabu dan walikota daerah Minato Tokyo ikut berjalan kaki kemarin melalui daerah hiburan Roppongi untuk meningkatkan kesadaran tentang undang-undang baru yang diberlakukan bulan ini.

Para calo biasanya menawarkan jasanya mengantarkan ke restoran atau bahkan tempat hiburan judi dan seks di Jepang kepada para pejalan kaki.

Bahkan tahun lalu Kedutaan Besar AS di Tokyo sempat berulang kali mengeluarkan peringatan tentang insiden bottakuri atau penagihan mengagetkan setelah tamu ingin membayar makanan minuman atau seusai menerima pelayanan dari sebuah tempat hiburan.

Tagihan per orang makan biasanya sekitar 2000-5000 yen misalnya, saat mau pulang tamu ditagih 20.000 yen per orang dengan berbagai alasan, misalnya dilayani oleh wanita yang cantik dan mau ngobrol dengan kita serta berbagai alasan lain.

Pelanggar undang-undang baru diberlakukan tersebut akan dikenakan denda. Nama-nama klub mereka yang menggunakan calo, juga bisa dibuat dan atau diungkapkan ke masyarakat sehingga masyarakat tidak akan datang ke sana.

Menurut kepolisian Tokyo, di daerah Roppongi saja sedikitnya ada 100 calo yang berkeliaran menawarkan berbagai hal kepada para pejalan kaki dan 90% dari mereka umumnya orang asing yang berdomisili di Jepang.

Satu korban bottakuri tersebut adalah warga Indonesia, lelaki yang habis berkunjung ke tempat hiburan malam di Kabukicho Tokyo tanggal 14 Agustus 2014.

WNI tersebut bernama IY usia 36 (saat itu), ribut dengan anggota geng bermotor liar Chise Dragon bernama Lee Siu Fai (28) karena jadi korban Bottakuri (ditagih uang dengan angka mengagetkan).

IY habis dipukuli dan ditendangi sehingga menjadi tak sadarkan diri cukup lama, dirawat di rumah sakit di Shinjuku sampai dengan Desember 2014 barulah pulang kembali ke Indonesia dalam keadaan yang belum pulih 100%, masih seperti lumpuh.

Pelaku pemukuran yang ternyata dekat dengan mafia Jepang (yakuza) pula, Lee Siu Fai (28) akhirnya ditangkap polisi September 2015.

Info lengkap yakuza dapat dibaca di www.yakuza.in

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved