Diana Hapsari Deg-degan saat Mewawancarai Menteri Susi di Jepang

Diana Hapsari (28) merasa deg-degan saat mewawancarai Menteri Perikanan dan Kelautan Dr (HC) Susi Pudjiastuti minggu lalu di Tokyo Jepang.

Diana Hapsari Deg-degan saat Mewawancarai Menteri Susi di Jepang
Koresponden Tribunnews/Richard Susilo
Diana Hapsari kelahiran Purworejo, 23 Mei 1988, pendidikan S3 Universitas Gifu Jepang jurusan teknik lingkungan khususnya fokus ke soal erosi lingkungan, Penyiar dan Sekretaris Radio Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Diana Hapsari (28) merasa deg-degan saat mewawancarai Menteri Perikanan dan Kelautan Dr (HC) Susi Pudjiastuti minggu lalu di Tokyo Jepang.

Gadis cantik asal Indonesia yang sebentar lagi lulus S3 jurusan teknik lingkungan bidang erosi ini malah tak bisa mewawancarai Susi dengan banyak pertanyaan saking ngefansnya dia kepada Susi.

"Waduh, ibu Susi itu idola saya, saya ngefans berat. Jadi saat bertemu ibu Susi mewawancarainya, malah tidak bisa bicara apa-apa, mampet semua di otak saya saking tegangnya dan deg-degan," kata Diana biasa dipanggil Ai (Di Jepang Ai artinya Cinta) kepada Tribunnews.com, Senin (17/4/2017).

Ai saat wawancara hanya bertanya dua macam yaitu soal kewanitaan dan soal pandangannya bisa menjadi pemimpin walaupun Susi Pudjiastuti hanya lulusan SMP.

"Padahal banyak sekali mau saya tanya, malah tidak ke luar semua, disamping juga mungkin soal waktu ya," lanjutnya.

Meskipun demikian Ai sangat bahagia bisa bertemu dan berfoto bersama Susi Pudjiastuti saat bertemu minggu lalu.

"Memang sejak kecil cita-cita saya salah satunya menjadi wartawan, kayaknya enak ya bisa ke mana-mana, bertemu segala macam orang. Tapi ya kini saya kejebak di lingkungan hidup," kata Ai sambil tertawa.

"Dulu saya yang penting bisa ke Jepang dan kebetulan di Universitas Nasional Sebelas Maret Solo ada kesempatan dan terpilih, ya saya ke Jepang sejak 2012 sampai kini ambil doktor khususnya soal erosi lingkungan. Pihak Universitas Gifu memberikan beasiswa sekolah, uang sekolah gratis, tetapi uang kehidupan hanya 30.000 yen per bulan jadi saya selama sekolah harus cari kerja tambahan supaya bisa hidup. Alhamdullillah bisa hidup sampai kini di Jepang meskipun sempat minta uang dari orangtua," kata Ai menceritakan pengalamannya.

Ai yang mengaku masih single masih bingung untuk masa depannya.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved