Ribut Proyek Reklamasi Nagasaki Jepang, Dimenangkan Petani di Tanah Reklamasi

Pengadilan Tinggi Fukuoka setelah menyelidiki selama lim atahun pada tahun 2010 memutuskan untuk membuka pintu tersebut.

Ribut Proyek Reklamasi Nagasaki Jepang, Dimenangkan Petani di Tanah Reklamasi
Jiji
Wakil dari pihak petani Nagasaki mengumumkan memenangkan tuntutan di pengadilan Nagasaki Senin ini (17/4/2017). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pengadilan negeri Nagasaki Senin ini (17/4/2017) mengabulkan tuntutan petani di tanah reklamasi Nagasaki yang dibangun oleh BUMN Proyek Reklamasi Teluk Isahaya, agar pintu bendungan di sana tidak dibuka.

"Apabila pintu bendungan dibuka maka ditakutkan akan membawa kerusakan serius kepada tanah pertanian di tanah reklamasai tersebut. Olehkarena itu meminta pemerintah untuk menunta pembukaan pindu bendungan tersebut," papar hakim ketua Takayasu Matsuba yang dibacakan oleh hakim Tsuyoshi Takeda Senin sore tadi (17/4/2017).

Pengadilan Tinggi Fukuoka setelah menyelidiki selama lim atahun pada tahun 2010 memutuskan untuk membuka pintu tersebut.

"Olehkarena itu keputusan pengadilan Nagasaki hari ini cukup menarik dan pertama kali bertolak belakang dengan keputusan pengadilan tinggi Fukuoka," papar sumber TRibunnews.com Senin ini.

Apabila pintu bendungan dibuka ditakurkan air laut dan garamnya akan merusak tanah pertanian di tanah reklamasi.

Yuji Yamamoto, petani di sana menyatakan akan mempelajari keputusan tersebut dan segera akan berkoordinasi dengan pihak kementerian terkait terutama kementerian pertanian dan perikanan Jepang.

Hakim juga melihat kalau pun pintu dibuka tetap tak ada kemungkinan tinggi dunia perikanan di sana akan semakin baik.

Kaitan buka tutup pintu tersebut dengan berkurangnya penangkapan ikan di sana dianggap hakim juga tidak ada kaitannya.

Pada tahun 1997, reklamasi sepanjang 7 kilometer dilakukan oleh BUMN tersebut untuk meningkatkan daerah pertanian di nagasaki. Namun kemudian pihak perikanan menentangnya.

Reklamasi selesai tahun 2008 dengan biaya sekitar 253 miliar yen.

Sekitar 670 hektar tanah pertanian dibeli oleh BUMN promosi pertanian pemda setempat dengan nilai 5m1 miliar yen, lalu disewakan kepada petani sekitar 40 kelompok tani dan perusahaan. Penghasilan dari pertanian di sana senilai 3,4 miliar yen per tahun.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved