Hajime Sugai Pria Jepang yang Menyulap Tabung Gas Bekas Menjadi Alat Musik Propanota

Di Jepang, tabung gas malah dimanfaatkan untuk dijadikan alat musik Propanota.

Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Hajime Sugai (47), kelahiran Yachiyoshi Chiba Jepang pencetus Propanota 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Di Indonesia banyak tabung gas tak terpakai dibuang begitu saja. Namun tidak demikian halnya di Jepang.

Di Negeri Sakura ini, tabung gas tersebut malah dimanfaatkan untuk dijadikan alat musik dan kini malah jadi tren, satu alat musik baru baru lahir sejak sekitar enam tahun lalu.

"Antara tahun 1995 - 1998 saya ke berbagai negara di Amerika Latin seperti Argentina, Chili, Peru, Bolivia, Ekuador, Brazil, Kolombia dan sebagainya. Saya senang bahasa Spanyol jadi jalan-jalan ke sana. Saya jatuh cinta dengan alat musik Djembe, tambur dan bentuknya seperti tabung gas. Tapi dibuat dari keramik sehingga mudah pecah. Dari situlah saya punya ide membuat Propanota sepulang ke Jepang," kata Hajime Sugai (47) kepada Tribunnews.com, Selasa (5/9/2017).

Sejak kecil Hajime Sugai memang menyukai musik. Tetapi baru setelah pergi ke negara-negara Amerika Latin semakin senang dengan musik dan menemukan ide membuat alat musik Propanota.

Baca: Cerita Musa 15 Hari Menyeberangi Laut Myanmar Sampai Aceh dan Kini Jadi Pengungsi di Makassar

Propanota dari kata propan (gas). Di Jepang tabung gas disebut propan gas.

Lalu nota yang artinya adalah not atau musik. Tabung gas yang menjadi alat musik, jadilah kata Propanota.

Hajime Sugai (47), kelahiran Yachiyoshi Chiba Jepang pencetus Propanota.
Hajime Sugai (47), kelahiran Yachiyoshi Chiba Jepang pencetus Propanota. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Meskipun demikian yang agak menarik adalah sepulang dari Amerika Latin bukan berusaha membuat Propanota, malah bekerja sebagai petugas khusus (karyawan perusahaan) kembang api Ikebun Co.Ltd., yang di awal tahun 1990 pernah mengekspor kembang api ke Indonesia maupun ke Thailand.

Sugai bekerja di perusahaan kembang api itu selama 11 tahun sejak 2000-2011.

Setelah itu barulah kembali menekuni Propanota dan mulai menjual produknya tahun 2011.

Baca: Seleksi Administrasi Diumumkan Hari Ini, Pelamar CPNS Kemenkumham Dilarang Menelepon Panitia

Meskipun demikian kesenangannya pula terhadap kembang api tak melepaskan kerjanya itu setiap tahun.

"Setiap musim panas sekitar Agustus saya kerja paruh waktu di Fujieda Perfektur Shizuoka membantu perusahaan itu dan ikut dalam berbagai festival kembang api di Jepang," kata Sugai.

"Kembang api juga menarik sekali bagi saya, hati ini jadi sejuk rasanya. Senang sekali kalau bisa menghasilkan kembang api yang meletus di awan," kata Sugai.

Darah seninya itu juga terealisasi ke alat musik baru ciptaannya, Propanota yang kini mulai populer di Jepang.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved