Senin, 8 Juni 2026

Ikebana Jepang Menjadi Viral Kembali Setelah Dipromosikan Instagram Ini

Kalau bicara Ikebana atau jalan kehidupan, lebih banyak kepada pendekatan aspek seni yang indah

Tayang:
Editor: Johnson Simanjuntak
Richard Susilo
Ikebana Jepang yang sangat manis dilihat dan diresapi 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Beberapa pimpinan perusahaan Jepang mulai aktif kembali mempromosikan budaya Jepang khususnya Ikebana terutama kepada para turis menjelang Olimpiade 2020.

“Karya Ikebana merupakan ciptaan dari jiwa orang Jepang, biasanya rangkaian bunga itu untuk dipersembahkan pada altar sembahyang sehingga memberikan kesejukan serta kedamaian bagi yang melihatnya,” papar Rikako Sugamo yang aktif mempromosikan budaya Jepang kepada masyarakat Indonesia selama ini, khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (10/1/2018).

Kali ini tema promosinya memang berbagai bunga rangkaian Ikebana yang dipostingnya di Instagram ini (https://www.instagram.com/bahasajepang/) sehingga cukup viral saat ini.

Karya seni merangkai bunga (Ikebana) yang muncul sekitar tahun 1300-an jaman Muromachi, memanfaatkan berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya.

“Kalau bicara Ikebana atau jalan kehidupan, lebih banyak kepada pendekatan aspek seni yang indah guna mencapai kesempurnaan merangkai bunga, juga dalam kehidupan sehari-hari untuk kesempurnaan, peningkatan kualitas hidup dengan lebih baik. Itu tercermin pula pada Ikebana,” tambahnya.

Di dalam Ikebana terdapat berbagai macam aliran atau sekolah atau gaya yang masing-masing mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga.

Aliran tertentu mengharuskan orang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, atau dari sisi lainnya.

Sedangkan aliran lain mengharuskan orang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga dimensi sebagai benda dua dimensi saja.

“Kali ini saya menampilkan lima sekolah terkenal Ikebana dalam postingan saya tersbeut yaitu
Dari sekolah Ikebono, Ohara-ryu, Ko-ryu, Sogetsu, dan Ichiyo.”

Pada umumnya, bunga yang dirangkai dengan teknik merangkai dari Barat (flower arrangement) terlihat sama indahnya dari berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu harus dilihat dari bagian depan.

Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif, Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme dan warna.

“Seni Ikebana yang ada pada hakekatnya berusaha mendekat dengan alam, yang memberikan relaksasi bagi pikiran, tubuh, dan jiwa.”

Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tetapi pada aspek pengaturannya menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang mewakili langit, bumi, dan manusia.

"Ikebana" berasal dari ikeru yang artinya tetap hidup, atur bunga, hidup dan hana atau bunga.

Terjemahan yang mungkin dapat diartikan "memberi hidup pada bunga" dan "mengatur bunga".

“Tanaman memainkan peran penting dalam agama Shinto asli. Yorishiro adalah benda yang disukai roh ilahi. Tanaman Evergreen seperti kadomatsu adalah hiasan tradisional yang muncul saat Tahun Baru dan dipasang berpasangan di depan rumah untuk menyambut roh leluhur atau dewi panen.,” ungkapnya lagi.

Hobi melihat tanaman dan mengapresiasi bunga selama empat musim memang Ikebana inilah yang menarik.

Dimulai dengan periode Heian (794-1185) memasukkan banyak puisi tentang topik bunga. Selama masa ini, Buddhisme diperkenalkan ke Jepang mulai abad ke-6 melalui China dan Korea.

Menawarkan bunga di altar Buddha menjadi umum. Namun saat itu belum muncul karya seni Ikebana yang menjadi satu keahlian dan teori merangkai bunga tersendiri.

Meskipun teratai banyak digunakan di India di mana agama Buddha berasal, di Jepang, bunga asli lainnya untuk setiap musim dipilih untuk tujuan ini.

Sementara di China, para pendeta Budha adalah instruktur pertama dari rangkaian bunga, di Jepang mereka hanya memperkenalkan unsur-unsurnya yang paling mendasar.

Untuk waktu yang lama rangkaian bunga yang ada itu tidak memiliki arti dan hanya menempatkan di vas, tanpa sistem, dari bunga untuk digunakan sebagai persembahan pura atau tempat persembahyangan dan tempat suci leluhur.

Pengaturan bunga pertama bekerja dengan sistem yang dikenal sebagai shin-no-hana, yang berarti "pengaturan bunga pusat". Cabang pinus atau kriptomeria besar berdiri di tengah, dan di sekitar pohon itu ada tiga atau lima bunga musiman.

Cabang dan batang ini dimasukkan ke dalam vas dalam posisi tegak tanpa mencoba kurva buatan. Bentuknya simetris secara umum, pengaturannya ada dalam gambar religius Jepang abad ke-14.

“Awalnya muncul arsitektural Jepang shoin-zukuri. Lalu mulailah kelengkapan dengan rangkaian bunga untuk mewakili pemandangan alam. Saat itu pula muncul semacam bonsai yang akhirnya menjadi satu ilmu tersendiri pula. Pohon besar di tengahnya mewakili pemandangan yang jauh, bunga plum atau bunga sakura jarak tengah, dan tanaman berbunga kecil di latar depan. Garis pengaturan ini dikenal sebagai pusat dan sub-pusat. Semua itu mulai terjadi fokus ke rangkaian bunga di tahun 1300-an pertengahan dan awal 1400-an,” jelas Rikako lagi menceritakan sejarah Ikebana singkat.

Orang Jepang memberi ekspresi musim dalam rangkaian bunga mereka, mengelompokkan bunga secara berbeda sesuai dengan waktu dalam setahun.

Misalnya, di bulan Maret, saat angin kencang, lekukan yang tidak biasa dari cabang-cabang tersebut sekaligus memberi kesan angin kencang.

Di musim panas, orang-orang Jepang bersukacita dalam wadah rendah dan luas, di mana air yang mendominasi secara visual menghasilkan pengaturan yang lebih dingin dan lebih menyegarkan daripada vas tegak lurus.

Tidak ada kesempatan yang tidak dapat disarankan dengan cara pengaturan bunga-bung.

Mungkin aneh bagi kita untuk meninggalkan keberangkatan kita dari rumah yang diumumkan oleh rangkaian bunga yang tidak biasa.

Namun ratusan kejadian biasa digembar-gemborkan oleh komposisi bunga yang menawan.

Begitu banyak penyair Jepang telah menyanyikan lagu willow (sekelompok pohon atau semak yang meskipun berkeluarga memiliki ukuran yang berbeda-beda dengan kebiasaan pertumbuhan yang berbeda-beda pula, namun memiliki kesamaan di bidang-bidang lainnya), membandingkan cabang-cabangnya yang sangat panjang dengan umur panjang, kehidupan pernikahan yang bahagia, dan lain-lain.

“Hal tersebut sering digunakan untuk banyak perayaan dan merupakan favorit besar untuk pengaturan yang dibuat saat perpisahan, panjang cabang pohon menjamin pengembalian yang aman dari perjalanan terpanjang, terutama jika satu cabang dibuat untuk membentuk lingkaran yang lengkap.”

Untuk pemanasan rumah, bunga putih digunakan, karena mereka menyarankan air untuk memadamkan api, dan api menjadi ketakutan konstan mereka, seperti dalam pembangunan banyak rumah kecuali atapnya yang mudah terbakar.

Bunga merah menunjukkan api, jadi dihindari pada kesempatan seperti itu. Untuk merayakan warisan semua jenis pohon evergreen atau krisan dapat digunakan, atau bunga yang berumur panjang, untuk menyampaikan gagasan bahwa kekayaan atau harta benda dapat tetap ada selamanya.

“Ada pengaturan yang tepat untuk semua kejadian yang mengerikan, dan juga untuk yang menyedihkan. Penawaran pada kematian harus berupa bunga putih, dengan beberapa daun dan cabang yang mati, diatur sedemikian rupa untuk mengungkapkan kedamaian. Semua hadiah bunga harus di kuncup, sehingga orang yang mereka kirimi mungkin merasa senang melihat saat bunga terbuka. Hal ini sangat kontras dengan gagasan Barat sekarang tentang segala sesuatu yang dipaksa untuk kesempurnaan sebelum meninggalkan toko bunga,” ungkapnya lagi.

Lebih lanjut berbagai karya Ikebana yang direkomendasikan Rikako dapatr dilihat di Instagram ini
https://www.instagram.com/bahasajepang/

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved