Deutsche Welle

Kesan-Kesan Dari Jerman Yang Menghormati Sejarah Bangsanya

Ada keistimewaan ketika memasuki kompleks museum Holocaust. Setiap pengunjung diberikan selembar topi khas Yahudi. Oleh Diah Wahyuningsih…

Sebenarnya laman DWNesiaBlog ini sudah sering saya baca. Beberapa informasi berkaitan dengan Jerman, saya dapatkan dari postingan sesama teman di salah satu media sosial. Di bagian akhir setiap cerita-cerita yang pernah dimuat dalam blog ini ternyata ada informasi yang mengajak siapa saja untuk bercerita tentang pengalamannya selama berkunjung ke Jerman atau selama ada di Jerman. Catatan di bagian bawah tersebut membuat saya tertarik membagikan pengalaman pribadi ketika kali pertama ke Jerman yang berlangsung kurang lebih seminggu.

Pengalaman menarik saya bersinggungan dengan satu tempat bersejarah yang kebetulan sempat saya kunjungi di pusat kota Frankfurt am Main. Kesan-kesan saya pada tempat tersebut sempat saya bagikan kepada siswa saya di depan kelas sekaligus memperlihatkan foto lokasinya.

2016, tepatnya di awal bulan November, saya bersyukur memperoleh kesempatan langka berkunjung ke benua Eropa yaitu Jerman. Kedatangan saya dalam rangka mengikuti Konferensi Internasional di Goethe Universitat. Mimpi saya melihat salju kesampaian walau kehadiran saya di saat itu belum memasuki musim dingin namun ada beberapa kota lain di Jerman sudah turun salju, seperti Hamburg sesuai keterangan teman saya yang asli Jerman.

Perjalanan saya luar biasa melelahkan. Dari Bandara Soeta, saya menggunakan pesawat Singapore Airlines menuju bandara Changi-Singapore. Tiket yang dipesan panitia memang menggunakan rute transit Singapore. Saya sendiri berdomisili di Batam. Seharusnya akan lebih irit waktu dan ongkos bila saya menyeberang langsung ke Singapore lewat Batam. Tapi berhubung Visa saya dipegang teman, mau tidak mau saya harus menemuinya di Jakarta.

Kami berangkat ke tujuan yang sama dengan menggunakan pesawat yang berbeda. Biasanya saya sedikit parno berpergian menggunakan pesawat padahal pengalaman menggunakan pesawat untuk perjalanan bukan kali pertama. Lelahnya perjalanan saya karena ditempuh dalam waktu kurang-lebih 16 jam.

Sesampainya di Bandara Frankfurt, saya mengalami sedikit kendala. Mungkin karena saya menggunakan Hijab sehingga pertanyaan saat melewati pos Imigrasi terasa menyulitkan. Syukur alhamdulillah akhirnya semua berjalan lancar setelah saya perlihatkan surat rekomendasi perjalanan dari penyelenggara.

Banyak hal baru saya rasakan di Jerman, misalnya penjagaan keamanan begitu ketat. Saya katakan demikian sebab saya tidak melihat hal serupa terjadi di Bandara Indonesia. Hampir setiap sudut Bandara ada aparat keamanan lengkap dengan senjata laras panjang, menjadi pemandangan lumayan menakutkan. Jujur saya agak gugup melirik pasukan berseragam plus bersenjata. Tapi sekali lagi, dalam benak saya itu adalah hal wajar mengingat negara-negara Eropa selalu jadi target bom para teroris. Sikap siaga mereka bisa jadi bentuk perlindungan negara terhadap rakyatnya. Apalagi sebulan sebelumnya terjadi pengeboman bandara di Belanda.

Sampai di Kampus Goethe Universit├Ąt Frankfurt, suhu udara mencapai 2 derajat Celsius. Bagi mereka yang tinggal di empat musim, ini adalah biasa, tapi tidak bagi saya. Saya pikir dinginnya Jerman sama seperti dinginnya Berastagi, daerah dataran tinggi di Sumatera Utara.Belum lagi gerimis sering turun tidak menentu, ditambah hembusan angin nyag membuat tulang-tulang serasa digempur bongkahan salju. Maklum saja kadang kala saya sedikit lugu.

Untungnya dari Indonesia rangkaian pesan dan kesan sudah terhimpun di kantung ajaib saya, sehingga dari Indonesia saya sudah mempersiapkan segala perlengkapan demi sebuah kehangatan. Kami disambut oleh ketua penyelenggara kegiatan di kampus lama, yaitu kampus Bockenheim, dan hari berikutnya acara dipusatkan di kampus baru di kawasan Westend.

Kunjungan ke museum Holocaust

Singkat cerita, setelah aktifitas pokok, yaitu Konferensi Internasional di Frankfurt, selesai, ada kesempatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang sudah diagendakan panitia. Paling menarik bukan hanya melihat aktifitas masyarakat Jerman terutama kehadiran tuna wisma di sudut kota, atau rasa hormat teman-teman Jerman saya yang selalu mengingatkan agar tidak lupa mana makanan halal, mana haram, melainkan juga kunjungan rombongan peserta meninjau Museum Holocaust atau Jewish Holocaust Memorial Wall, didampingi seorang volunteer. Ada keistimewaan ketika memasuki kompleks itu. Setiap pengunjung diberikan selembar topi khas Yahudi. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan sebagai bentuk penghormatan arwah yang bersemayan di dalamnya.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved