Pilot Jepang: Pemerintah Malaysia Sulit Ungkap Soal Kejatuhan Pesawat MH-370, Ini Sebabnya

Menurut teorinya, pesawat MH-370 jatuh sekitar 2000 km sebelah barat Australia di laut yang paling luas dan paling dalam sehingga sangat sulit dicari

Pilot Jepang: Pemerintah Malaysia Sulit Ungkap Soal Kejatuhan Pesawat MH-370, Ini Sebabnya
Richard Susilo
Mantan pilot profesional Japan Airlines Hiroshi Sugie (72) yang memperoleh penghargaan dari Boeing "Jumbo Flight Time Best " pada tahun 2011 dengan jam penerbangan 21.000 jam tanpa kecelakaan apa pun. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Mantan pilot senior dan profesional Jepang dari Japan Airlines, Hiroshi Sugie (72) yakin kasus misterius jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH-370 akan sulit sekali diungkap yang sebenarnya terjadi oleh Pemerintah Malaysia.

"Meskipun nantinya misalnya Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri Malaysia, kasus MH-370 tidak akan mereka ungkap terbuka yang sebenarnya, pasti ditutupi," ungkap Sugie khusus dalam wawancara sore ini (29/5/2019) dengan Tribunnews.com di sebuah restoran di Tokyo.

Menurut teorinya, pesawat MH-370 jatuh sekitar 2000 km sebelah barat Australia di laut yang paling luas dan paling dalam sehingga sangat sulit dicari Black Box-nya.

Mengapa bisa sampai ke sana?

 Menurutnya perjalanan sekitar tujuh setengah jam di udara sejak lepas landas dari Kuala lumpul 8 Maret 2014 jam 00.41 dan baru diketahui pesawat menghilang dari radar jam 01.38 setelah bandara Ho Chi Minth Vietnam memberitahukan Kuala Lumpur bahwa sejak 01.21 pesawat MH-370 tidak terdeteksi di layar Vietnam.

"Setelah dinyatakan kehilangan MH-370 dari radar, pasti ada hal yang disembunyikan pemerintah Malaysia kepada umum dan saya tak percaya keterangan pemerintah Malaysia bahwa sistem komunikasi MH-370 mati terus secara total," tekannya.

Sugie yakin ada komunikasi suara dengan pihak pemerintah Malaysia setelah mencapai dekat pulau Natal, kepulauan Cocos atau pun mungkin juga pulau Jawa, daerah Samudra Hindia yang ada beberapa pendaratan internasionalnya.

"Di Samudra Hindia itulah pilot Zaharie Ahmad Shah membuka percakapan dengan pemerintah Malaysia minta Anwar Ibrahim dibebaskan dari penjara karena dia pendukung kuat Anwar Ibrahim," ungkapnya.

Tentu saja pemerintah Malaysia menolak permintaan tersebut dan pilot Zaharie memutuskan bunuh diri menceburkan diri ke laut dalam dan luas di sekitar 2000 kilometer barat Australia, ungkapnya lagi.

"Apabila komunikasi negosiasi tersebut diungkapkan kepada umum, apalagi penumpangnya 70% lebih adalah orang China, ini bisa menimbulkan masalah internasional dan perusahaan penerbangan juga langsung bangkrut, serta nama Malaysia akan jelek nantinya. Itulah sebabnya kasus ini akan sangat sulit sekali diungkapkan sebenarnya," jelasnya lagi.

Semua teorinya tersebut didukung berbagai kesaksian, termasuk jenderal Malaysia yang berkomentar bahwa teori Sugie memang masuk akal dan dapat diterima.

"Saya pernah baca berita di mana seorang jenderal di Malaysia membenarkan dan masuk akal teori yang saya ungkapkan tersebut," tambahnya lagi tanpa menyebutkan nama jenderal tersebut.

Banyak bukti menurutnya yang mendukung teorinya tersebut, termasuk upaya sebuah perusahaan di Amerika Serikat yang mau mencari bangkai MH-370 di lautan Hindia tetapi ditanggapi agak aneh oleh Malaysia.

"Perusahaan AS tersebut mau mencari bangkai MH-370 tetapi dengan syarat dari Malaysia, kalau tidak ketemu biaya tanggung sendiri, kalau ketemu barulah pemerintah Malaysia bayar. Itu kan aneh. Kalau serius pemerintah Malaysia mau mencari bangkai pesawatnya, ya harus komit dong dengan upaya pencarian tersebut dan perusahaan AS itu saya tahu sangat profesional dan sekitar 80% lebih usahanya selalu berhasil menemukan bangkai pesawat di lautan dalam sekali pun."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved