Deutsche Welle

Yenny Wahid: "Masyarakat Indonesia Suka Media Sosial, Tapi Belum Terbentuk Kultur Berpikir Kritis"

Indonesia, seperti banyak negara lain, saat ini menghadapi tantangan munculnya intoleransi yang mengancam pluralisme dan perdamaian,…

Yenny Wahid, Ketua Wahid Foundation, sebelumnya dikenal sebagai Wahid Institute, hari Minggu (23/06) berada di Jerman dan berbicara dengan masyarakat Indonesia. Yenny juga bertemu beberapa organisasi Jerman dalam rangka mendalami kerjasama perdamaian. Selain memenuhi undangan KBRI Berlin untuk dan berbicara tentang kebhinnekaan, tantangan demokrasi dan tantangan pluralisme di Indonesia, Yenny juga menghadiri Pertemuan Diaspora Indonesia di Berlin yang diselenggarakan para relawan pendukung Capres 01 pada pemilu lalu dan dihadiri peserta dari lebih 20 negara Eropa. Berikut petikan wawancara Yenny Wahid dengan Hendra Pasuhuk, editor DW Indonesia (foto artikel).

DW: Berbicara soal tantangan-tantangan Indonesia, seberapa besar tantangan soal demokrasi, puralisme dan toleransi yang saat ini dihadapi masyarakat Indonesia?

Yenny Wahid:

Sekarang kita memang sedang menghadapi era globalisasi, dengan arus informasi yang begitu deras dan teknologi komunikasi yang berkembang pesat. Ini tentu membawa dampak-dampak positif bagi kemajuan kemanusiaan, tetapi di sisi lain ada juga eksis negatifnya. Misalnya persoalan hoaks, persoalan fake news yang kita hadapi bersama. Teknologi informasi ternyata bisa memicu terbentuknya masyarakat yang tersegmentasi. Karena algoritma platform media sosial itu misalnya menyebabkan masyarakat menjadi terbelah.

- … dan penyedia platform ini adalah perusahaan-perusahaan komersial..

Perusahaan komersial yang menggunakan artificial intelligent, atau kecerdasan buatan, untuk membuat profiling dari penggunanya, sehingga kemudian akan diketahui keinginan dan kecenderungan pengguna, jadi bisa disalurkan informasi yang sesuai dengan dengan minatnya.

Nah, profiling ini, selain digunakan untuk kepentingan komersial, misalnya iklan, juga bisa digunakan untuk kepentingan politis oleh pengguna lainnya. Pendukung A bisa menggunakan jalur ini untuk menyebarkan informasi yang misalnya menjelek-jelekkan pendukung B. Pendukung B juga bisa menyebarkan informasi yang menjelek-jelekkan pendukung A.

Ini fenomena global yang juga terjadi di Indonesia. Apalagi Indonesia adalah masyarakat pengguna media sosial yang sangat besar. Untuk Facebook, pengguna keempat terbesar di duniam untuk Twitter, Indonesia pengguna kedua terbesar. Jadi masyarakat Indonesia sangat suka dengan media sosial. Tapi di sisi lain, belum terbentuk kultur berpikir kritis. Sehingga sangat mudah sekali menelan hoaks dan fake news.

Apalagi dengan adanya pemilu kemarin ini, yang membuat masyarakat makin terpecah, ada jurang yang besar di tengah-tengah masyarakat. Ini yang kita hadapi saat ini di Indonesia. Jadi pluralisme semakin terancam, karena dalam pemilu kemarin ada narasi yang cenderung membuat orang saling membenci, berdasarkan identitas politik. Ada polarisasi yang sangat tajam. Ini yang mengancam pluralisme, kalau dibiarkan saja. Itulah ancamannya.

-… dan kalau dibiarkan saja bisa mengakibatkan perpecahan yang diiringi aksi-aksi kekerasan..?

Bisa meruncing seperti itu.. Tetapi, saya sendiri cukup optimis bahwa masyarakat Indonesia cukup dewasa, sekalipun ada politisasi yang sangat keras, ada arus fake news yang begitu pesat, tapi jaringan sosial kita sebenarnya cukup kuat.

Ada suasana yang tetap bisa kita bangun untuk terus melakukan dialog di antara masyarakat. Jadi di Indonesia perbedaan-perbedaan itu masih bisa diselesaikan, misalnya dengan intervensi dari pihak keluarga, dari pihak yang dituakan di masyarakat, society elders. Ini yang menurut saya secara sistematis harus kita kuatkan lagi. Institusi-institusi maupun mekanisme-mekanisme informal untuk penyelesaian konflik yang ada dalam masyarakat, baik formal leaders maupun informal leaders perlu ikut turun tangan. Ini adalah suatu tradisi yang biasa terjadi di Indonesia.

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved