BBC

Israel hancurkan rumah-rumah di daerah pendudukan di Tepi Barat, warga Palestina 'terpaksa menggelandang di jalan'

Israel hancurkan rumah-rumah di daerah pendudukan di Tepi Barat, warga mengatakan 'terpaksa menggelandang di jalan' dalam operasi yang akan

Israel memulai menghancurkan rumah-rumah di permukiman Palestina yang mereka sebutkan dibangun secara ilegal dan terlalu dekat dengan tembok pemisah di daerah yang diduduki di Tepi Barat.

Palestina mengatakan akan mengajukan keluhan ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas langkah Israel itu. Sebelumnya, PBB dan Uni Eropa telah meminta Israel menghentikan operasi tersebut.

Pihak keamanan Israel bergerak ke Sur Baher, di ujung Yerusalem Timur, untuk menghancurkan bangunan-bangunan yang ditempati 17 orang.

Penduduk mengatakan mereka mendapatkan izin untuk membangun oleh Otorita Palestina dan mereka menuduh Israel berupaya merebut tanah di Tepi Barat.

Namun Mahkamah Agung Israel menyatakan pembangunan rumah itu melanggar larangan pembangunan.

Israel merebut Tepi Barat pada perang Timur Tengah tahun 1967 dan kemudian mencaplok Yerusalem Timur. Berdasarkan hukum internasional, kedua daerah itu dianggap sebagai kawasan pendudukan, namun Israel menyanggah.

Sekitar 700 polisi dan 200 tentara Israel terlibat dalam operasi penghancuran di desa Wadi Hummus, di kawasan Sur Bahir.

Mereka membawa alat berat dan menghancurkan 10 bangunan yang menurut PBB ditandai Israel untuk dihancurkan.

Palestina ajukan keluhan ke Mahkamah Kejahatan Internasional

MA Israel mengatakan rumah-rumah itu merupakan ancaman keamanan.
EPA
MA Israel mengatakan rumah-rumah itu merupakan ancaman keamanan.

Sembilan warga Palestina berstatus pengungsi, termasuk lima anak karena penghancuran ini, kata PBB. Sekitar 350 orang lain yang memiliki rumah di gedung-gedung yang tidak didiami atau tengah dibangun juga terganggu operasi ini.

Salah seorang warga, Ismail Abadiyeh mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa dia dan keluarganya terpaksa tinggal "menggelandang di jalan."

Halaman
123
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved