BBC

Enam alasan kenapa The Sixth Sense tetap jadi film ikonik sesudah 20 tahun

Beredar perdana di tahun 1999, The Sixth Sense telah menjadi salah satu film kasik, dan kecohan di penghujung film hanya salah satu magnet film.

Malahan atasan Vogel menolak keras harga US$2,25 juta (sekitar Rp32 milyar) yang harus dikeluarkan untuk membeli hak film itu. Vogel pun dipecat.

Mengejutkan semua orang di box office

Para eksekutif studio gugup, tapi The Sixth Sense dengan mudah mengembalikan biaya produksi US$40 juta (Rp570 milyar) dengan mencatat keuntungan lebih dari US$670 juta (Rp9.5 trilyun) di seluruh dunia.

The highest-grossing horror movies of all time. .  .

Angka ini yang tertinggi kedua di tahun 1999, hanya kalah dari Star Wars: The Phantom Menace.

The Sixth Sense juga memegang rekor film horor berpendapatan tertinggi, sampai kalah di tahun 2017, diambil alih oleh adaptasi novel Stephen King, It.

Akhir film yang terus diingat

Kecohan di akhir cerita sangat sering dipakai dalam film, sudah sejak 1920-an.

Namun M. Night Shyamalan meningkatkan standar dengan menyembunyikan kematian tokoh yang diperankan oleh Bruce Willis dari penonton hingga benar-benar adegan terakhir.

Tentu saja ia meninggalkan beberapa tanda di beberapa adegan yang kemudian bikin para penggemar film gemas ketika menonton ulang film itu.


Bocoran beberapa film lain yang terkenal dengan twist

Frightened By His Paranormal Powers, 8-Year-Old Cole Sear (Haley Joel Osment) Is Too Young To Understand His Purpose In "The Sixth Sense."
Getty Images

Psycho (1960): Ibunda Bates sebetulnya adalah Norman, yang memakai baju si ibu.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved