Ultimatum AS, Turki Peringatkan akan Luncurkan Operasi Sendiri ke Suriah Utara

Turki berencana meluncurkan operasi militernya yang telah lama dijanjikan, terhadap pasukan Kurdi di Suriah Utara.

Ultimatum AS, Turki Peringatkan akan Luncurkan Operasi Sendiri ke Suriah Utara
Sputnik News
Turki berencana meluncurkan operasi militernya yang telah lama dijanjikan, terhadap pasukan Kurdi di Suriah Utara, tepatnya di sebelah Timur Sungai Efrat. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, ANKARA - Turki berencana meluncurkan operasi militernya yang telah lama dijanjikan, terhadap pasukan Kurdi di Suriah Utara, tepatnya di sebelah Timur Sungai Efrat.

Hal itu akan benar-benar terjadi jika Amerika Serikat (AS) gagal memenuhi persyaratan yang diberikan Turki terkait zona aman dalam beberapa pekan ke depan.

Seperti yang disampaikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu kemarin waktu setempat.

"Jika dalam beberapa pekan militer AS tidak mengontrol kawasan Timur Sungai Efrat, kami akan mengimplementasikan rencana operasi sendiri," kata Erdogan, dalam upacara kelulusan Universitas militer, di Istanbul, Turki.

"Kami tidak punya banyak waktu dan kesabaran, jangan ada yang mencoba menyesatkan kami dengan menggunakan ISIS sebagai alasan," kata dia.

Pada awal bulan ini, Turki dan AS telah membuka pusat kendali gabungan untuk zona penyangga prospektif.

Namun keduanya tetap berselisih pendapat mengenai spesifikasi struktur pasukan yang akan beroperasi di daerah tersebut.

Dikutip dari laman Sputnik News, Minggu (1/9/2019), milisi terutama Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) telah memainkan peran penting mereka dalam perang Suriah yang menjadi tulang punggung Pasukan Demokratik Suriah.

Turki mengklaim bahwa kedua organisasi itu merupakan bagian dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan memperlakukan mereka sebagai kelompok teroris.

Sebelumnya, Turki telah berperang melawan milisi Kurdi di Suriah sejak bertahun-tahun lalu, meskipun ada protes yang dilakukan negara itu terhadap kehadiran Turki yang disebut ilegal.

Pada 2018 lalu, Turki dan AS menyetujui rencana untuk menarik semua militan Kurdi dari Manbij dan memungkinkan penduduk setempat dalam membentuk dewan kota baru.

Namun belum ada kemajuan dalam hal tersebut, karena menurut Turki, AS telah menunda pembuatan peta jalan.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa Turki tidak akan membiarkan AS menghalangi pembangunan zona aman di Suriah Utara.

Seperti halnya dengan wilayah Suriah Manbij, di mana AS dilaporkan tidak memenuhi komitmennya terhadap Turki.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved