Deutsche Welle

Duka Cita untuk Habibie

Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, tutup usia pada Rabu (11/09) petang di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.…

Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, meninggal pada usia 83 tahun. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai negara sahabat. Di mata mereka, Habibie adalah sosok negarawan yang visioner dan kepergiannya menyisakan duka mendalam.

Seperti yang disampaikan Perdana Menteri Australia, Scot Morrison di akun Twitter-nya.

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyebut meninggalnya Habibie sebagai suatu kehilangan yang besar.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Peter MacArthur, juga mengucapkan belasungkawanya. Dalam cuitan di akun Twitter-nya @AmbMacArthur ia menyebut B.J. Habibie sebagai figur sentral evolusi demokrasi di Indonesia.

Selain itu, Dubes Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins juga menyebut Habibie sebagai negarawan dan sahabat Inggris.

Kabar meninggalnya Mantan Menteri Negara dan Riset, Kabinet Pembangunan periode tahun 1978-1998 ini juga ramai diberitakan oleh media asing. Salah satunya The Washington Post dalam edisi online dengan judul berita "B.J. Habibie, reformist Indonesian president, dies at 83” menuliskan:

Masa kepemimpinan Habibie merupakan yang terpendek sepanjang sejarah Indonesia, namun bersifat transformatif. Ia ditunjuk memimpin Indonesia oleh Soeharto setelah 32 tahun masa kempemimpinan militernya runtuh pada Mei 1998 saat terjadi aksi demonstrasi oleh mahasiswa dan krisis ekonomi parah. Masa kepemimpinan Habibie berakhir setelah 16 bulan kemudian, pada Oktober 1999, setelah ia mengundurkan diri dari pemilihan presiden. Sebagai seorang insinyur yang menimba ilmu di Indonesia, Belanda, dan Jerman, Habibie menghabiskan hampir dua dekade bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt Bolkow-Blohm sebelum kembali ke Indonesia tahun 1974 untuk membantu Soeharto melakukan industrialisasi ekonomi.

Baca juga: Dubes RI Untuk Jerman Arif Havas Oegroseno: BJ Habibie Sosok Yang Tulus dan Bersahaja

Pendidikan dan karier di Jerman

B.J. Habibie lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Habibie pernah belajar di Technische Hochschule di Aachen, Jerman Barat, jurusan konstruksi pesawat terbang tahun 1955. Di universitas tersebut, suami dari H. Hasri Ainun Besari (Almarhumah) meraih gelar Doktor-Ingeniur dengan predikat summa-cumlaude. Hampir dua puluh tahun Habibie berkarier di Jerman. Ia pernah menududuki jabatan Wakil Presiden perusahaan penerbangan Messerschmitt Bolkow-Blohm.

Ia terkenal dengan teorinya yang bernama Habibie Theory yaitu mengenali keretakan yang terjadi pada pesawat atau memprediksi letak awal retakan pada pesawat (crack propagation point). Atas teorinya ini ia dijuluki dengan Mr. Crack.

Pada tahun 1973, ia pun diminta kembali ke Indonesia oleh Presiden Soeharto untuk mengembangkan teknologi dan ekonomi di tanah air. Habibie pun diangkat menjadi Menteri Negara dan Riset, Kabinet Pembangunan IV pada tahun 1978.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved