BBC

Negara-negara Arab kecam rencana PM Benjamin Netanyahu memperluas kedaulatan Israel dengan mencaplok Lembah Yordania

Perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji memperluas kedaulatan negaranya ke bagian Tepi Barat yang diduduki sejak perang 1967.

Negara-negara Arab mengecam rencana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mencaplok sebagian wilayah pendudukan di Tepi Barat jika ia kembali terpilih sebagai perdana menteri dalam pemilihan umum pekan depan.

Netanyahu mengatakan dirinya akan menerapkan "kedaulatan Israel atas Lembah Yordania dan Laut Mati bagian utara", sebuah kebijakan yang pasti akan didukung oleh partai-partai sayap kanan yang dukungannya akan ia perlukan untuk koalisi.

Para pejabat Yordania, Turki, dan Arab Saudi mengritik tajam rencana tersebut.

Liga Arab menyebutnya sebagai "perkembangan berbahaya" dan "agresi" Israel.

Diplomat Palestina, Saeb Erekat, mengatakan bahwa aksi pencaplokan akan "mengubur kesempatan damai".

Israel telah menduduki wilayah Tepi Barat sejak 1967 namun tidak sampai mencaplok kawasan tersebut.

Netanyahu, pemimpin partai sayap kanan Likud, tengah berkampanye menjelang pemilu Selasa depan. Hasil survei menunjukkan partainya bersaing ketat dengan oposisi, Partai Biru dan Putih, dan mungkin akan kesulitan membentuk koalisi pemerintahan.

Pihak Palestina mengklaim seluruh kawasan Tepi Barat untuk menjadi bagian dari negara independen mereka di masa depan. Netanyahu sebelumnya bersikeras bahwa Israel akan selalu mempertahankan kehadirannya di Lembah Yordania untuk tujuan keamanan.

Map

Apa kata Netanyahu?

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, perdana menteri Israel itu mengatakan: "Ada satu tempat di mana kita bisa menerapkan kedaulatan Israel segera setelah pemilu digelar.

"Jika saya menerima dari Anda, warga Israel, mandat untuk melakukannya... hari ini saya umumkan niat saya bersama formasi pemerintahan yang berikutnya untuk menerapkan kedualatan Israel atas Lembah Yordania dan Laut Mati bagian utara."

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved