BBC

Amerika Serikat terapkan pembatasan visa bagi China terkait 'penindasan' terhadap minoritas Muslim Uighur

Menteri Luar negeri Amerika Serikat menuduh pemerintah China menindas warga Uighur, suku Kazakh, Muslim Kyrgyz dan kelompok minoritas Muslim

"AS mendesak China untuk segera mengakhiri kampanye penindasan di Xinjiang, membebaskan orang-orang yang dasar penahanannya tidak jelas, dan berhenti berusaha memaksa anggota kelompok minoritas Muslim China yang tinggal di luar negeri untuk kembali ke China untuk kemudian menghadapi nasib yang tidak jelas," demikian isi pernyataan pemerintah AS.

Amerika dan China sedang terlibat dalam perang dagang.

Delegasi telah dikirim ke Washington minggu ini untuk bertemu guna menurunkan ketegangan.

Seperti apa keadaan di Xinjiang?

China melakukan sejumlah operasi keamanan besar-besaran di Xinjiang, di China barat, dalam beberapa tahun terakhir.

Kelompok-kelompok HAM dan PBB menyatakan China menangkap dan menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan kelompok minoritas lainnya di kamp penahanan besar.

Mereka dipaksa tidak lagi menjadi Muslim, hanya menggunakan bahasa China Mandarin dan belajar patuh kepada pemerintah komunis di Beijing.

Tetapi China mengatakan warga Muslim ini menghadiri apa yang mereka sebut sebagai "pusat pelatihan kejuruan" yang memberikan mereka pekerjaan dan membantu mereka bergabung ke dalam masyarakat China, untuk mencegah terorisme.

Orang tua Uighur di Turki yang mengatakan anak-anak mereka hilang di China.
BBC
Orang tua Uighur di Turki yang mengatakan anak-anak mereka hilang di China.

Terjadi peningkatan pengaduan secara lisan dari AS dan negara-negara lain terkait tindakan China di Xinjiang.

Minggu lalu pada sebuah konferensi pers di Vatikan, Pompeo menuduh China "memaksa warganya untuk menyembah pemerintah, bukannya Tuhan".

Pada bulan Juli, lebih dari 20 negara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Council) menandatangani surat bersama yang mengecam perlakuan China terhadap Uighur dan kelompok Muslim lainnya.

Siapakah Uighur?

Halaman
123
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved