Deutsche Welle

Bukan Denda, FIFA Harusnya Hukum PSSI Tanpa Penonton

FIFA menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp 643 juta kepada PSSI, akibat peristiwa kericuhan yang terjadi antara pendukung timnas Indonesia…

Masalah security? gampang tidak perlu jauh-jauh, lihat di Bukit Jalil, Malaysia. Lihat di National Stadium, Singapura. Lihat di Rajamanggala, Bangkok. Semua aman. Itu stadion yang benar-benar modern, tidak bisa masuk. GBK juga sekarang kalau tidak salah sudah susah (masuk). Jadi banyak dari stadion kita itu tidak memenuhi standar keamanan, itu yang jadi masalah. Kalau stadion tidak bisa diubah, harus ditutupi dengan bikin pagar lebih tinggi lagi, lebih kuat lagi, atau pasang polisi di setiap pertandingan sehingga mereka tidak bisa masuk. Itu timnas di GBK kan kalau tidak salah, artinya GBK harus dipikiran lagi keamanannya.

Apakah karakter supporter menjadi faktor penyebab terjadinya kerusuhan?

Semua supporter di seluruh dunia itu cenderung agresif-emosional. Tapi sekarang kalau mereka diberikan kesempatan untuk melakukan tindakan anarkis, itu mereka lakukan. Itu terjadi di Amerika Latin dan Eropa. Sanksinya apa? Kalau di Inggris sangat berat. Di Eropa kesempatan itu tidak pernah diberi. Saya 20 tahun tinggal di Belanda saya tahunan ke stadion. Tidak ada cerita bisa masuk karena begitu aman. Bahkan fans dari tim away, yang datang ke stadion itu sudah dijaga dengan polisi berkuda, ada semuanya sehingga ingin ribut saja tidak bisa. Kalau karakter supporter semua sama di seluruh dunia. Karena sepak bola ini kan olah raga yang tingkat emosinya tinggi ada yang bisa menahan ada yang tidak. Itulah tugas FIFA, EUFA, AFC, PSSI, klub dan stadion, bahkan dari polisi juga.

Sejauh ini, apakah pengamanan Indonesia masih bisa ditingkatkan?

Kita bisa kalau mau. Saya tidak lihat ada perbaikan, niat benar-benar ingin memperbaiki. Kalau kita ingin memperbaiki datanglah ke Belanda, bikin study tour, datanglah ke Jerman, ke Inggris, bikin penelitian, tengok stadion disana seperti apa. Datang ke Spanyol lihat stadionya seperti apa, bisa masuk tidak? Kalau bisa seperti apa? Kalau ada niat pertama itu dipelajari. Kedua perbaiki stadion, bicara dengan pemda bicara dengan pemerintah karena stadion milik pemerintah. Sekarang PSSI membuka diri ke pemerintah aja tidak mau.

Peristiwa kerusuhan, akan mencederai rencana Indonesia jadi tuan rumah piala dunia U-20?

Hal seperti ini, seandainya kita jadi kandidat yang lolos, asumsi yang mendaftar diri ada 7 sampai 8 negara. Mengerucut ke 2 sampai 3 negara, nanti akan dikunjungi oleh FIFA dicek ingin bertanding di stadion mana? Dicek infrastrukturnya, hotel terdekat, jalanannya se-macet apa, dicek polisinya, mereka cek semua. Mereka sampai ke stadion saja, selesai tidak akan lolos. Mungkin hanya GBK yang bisa lolos, tapi yang lain saya tidak yakin. Mungkin ada beberapa stadion baru modern di luar kota, Samarinda misalnya, Kalimantan atau Sumatera mungkin bisa lolos, tapi banyak yang harus diperbaiki. Tapi kalau stadion klub yang sudah sering kebobolan itu harus diperbaiki. Kalau pemerintah mengatakan akan perbaiki 4-5 stadion, baru mereka bsa menjadi kandidat serius, tapi tidak dengan kondisi sekarang. FIFA itu sangat amat ketat. (pkp/vlz)

Wawancara dilakukan oleh Prita Kusumaputri, dan telah diedit sesuai konteks.

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved