BBC

Ketika seni revolusioner Kuba menginspirasi perjuangan pembebasan Afrika

Pameran poster dan majalah propaganda Kuba di London memperlihatkan dukungan Fidel Castro kepada gerakan pembebasan Afrika selama Perang Dingin.

Pameran poster dan majalah propaganda Kuba di London memperlihatkan dukungan (mendiang) Fidel Castro - pemimpin Kuba - kepada gerakan pembebasan Afrika selama Perang Dingin.

Karya seni ini diproduksi oleh Organisasi Solidaritas untuk Rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Ospaaal), yang dilahirkan saat Konferensi Tricontinental, yang digelar di Havana pada 1966, untuk memerangi imperialisme AS.

"Banyak negara Afrika diwakili delegasi yang hadir di acara itu, termasuk sejumlah gerakan pembebasan. Dan Castro terhubung dengan beberapa pemimpin, terutama Amílcar Cabral dari Republik Guinea-Bissau," kata Olivia Ahmad, kurator pameran di House of Illustration, kepada BBC.

A Ospaaal poster entitled Day of solidarity with people of Guinea-Bissau and Cape Verde Islands, 1974, showing Amílcar Cabral
Olivio Martínez Viera
Sosok Amílcar Cabral dalam poster Hari Solidaritas bagi rakyat Guinea-Bissau and Kepulauan Cape Verde, 1974

Cabral memimpin perang melawan kekuasaan kolonial Portugis di Guinea-Bissau dan kepulauan Tanjung Verde, tetapi dia dibunuh pada 1973, setahun sebelum Guinea-Bissau merdeka.

Ahmad mengatakan Konferensi Tricontinental lebih banyak direncanakan, tetapi tidak pernah terealisasi sehingga berbagai produk publikasi Ospaaal menjadi cara penting agar dapat tetap berhubungan sekaligus berbagi informasi - dan berbagai poster dilipat dan diselipkan dalam berbagai penerbitan.

Revolusioner Amerika Latin yang paling tersohor, Ernesto "Che" Guevara, "barangkali yang paling banyak digambar dalam berbagai karya Ospaaal," katanya.

An Ospaaal poster entitled Che Guevara, 1969, showing his face over a rainbow design
Alfredo G Rostgaard
Poster yang menampilkan sosok Che Guevara, 1969.

Guevara melanglang buana ke lokasi yang kini dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo pada 1965 dengan misi - yang berakhir gagal - melahirkan pemberontakan melawan rezim pro-Barat, empat tahun setelah pembunuhan atas pahlawan kemerdekaan Kongo, Patrice Lumumba.

Pembunuhan Lumumba, empat bulan setelah dia terpilih sebagai perdana menteri pertama yang demokratis di negara itu, secara luas dituduhkan kepada agen-agen intelijen AS dan Inggris.

An Ospaaal poster, entitled Day of Solidarity with the Congo, 1972, showing the face of Patrice Lumumba over a map of Africa
Alfredo Rostgaard
Sosok Patrice Lumumba dalam poster memperingati Hari Solidaritas bagi rakyat Kongo, 1972

"Berbagai poster amat menarik karena semuanya dipengaruhi seni pop yang mungkin tidak Anda harapkan untuk dilihat... ketimbang dipengaruhi apa yang disebut estetika sosialis-realis yang lumpen," kata Ahmad.

Karya dari 33 orang seniman ini dapat dilihat dalam pamer Designed in Cuba: Cold War Graphics. Sebagian besar karya seni rupa ini tentang kaum perempuan dan tema-temanya paling bertahan lama.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved