Karyawan Perusahaan JDI Jepang Bunuh Diri Setelah Ketahuan Korupsi Ratusan Juta Yen

Seorang mantan eksekutif Japan Display Incorporated (JDI) minggu lalu bunuh diri setelah ketahuan melakukan korupsi ratusan juta yen di perusahaannya.

Karyawan Perusahaan JDI Jepang Bunuh Diri Setelah Ketahuan Korupsi Ratusan Juta Yen
Richard Susilo
Ilustrasi bunuh diri banyak dilakukan kaum muda Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang mantan eksekutif Japan Display Incorporated (JDI) minggu lalu bunuh diri setelah ketahuan melakukan korupsi ratusan juta yen di perusahaannya.

"Beberapa hari lalu tersangka dibawa ke rumah sakit dan meninggal di rumah sakit diduga bunuh diri di rumah sakit," ungkap sumber kepolisian kepada Tribunnews.com, Senin (2/12/2019).

Sebelumnya tersangka yang bertanggungjawab atas masalah akuntansi pembukuan perusahaan JDI telah dipecat beberapa waktu lampau.

Tersangka didakwa dengan tuduhan kriminal, korupsi 500 juta yen, termasuk transfer dana perusahaan atas nama biaya pengiriman bisnis ke rekening mitra bisnis fiktif selama lebih dari 4 tahun hingga Oktober 2018.

Baca: Sutradara Indonesia Sinung Winahyoko Raih Talents Tokyo Awards di Filmex Jepang

Baca: Saatnya Menikmati Keindahan Kokyo Gaien, Taman Kekaisaran Jepang

Pada bulan Desember 2018, dia diberhentikan dari tindakan disipliner dan secara pidana diajukan ke polisi dengan membayar 78 juta yen.

Setelah itu, seorang mantan eksekutif menghubungi perusahaan mengatakan, "Selain pemalsuan, perusahaan telah melakukan akuntansi yang tidak sesuai dengan instruksi dari manajemen pada waktu di masa lalu, dan perusahaan mulai menyelidiki fakta-fakta yang ada dan terbongkarlah ketidakbenaran pembukuannya."

Polisi masih belum mengetahui situasi terperinci dan belum tahu ada tidaknya wasiat dari tersangka kepada keluarga atau yang masih hidup.

Ilustrasi bunuh diri dengan overdosis
Ilustrasi bunuh diri dengan overdosis (Pixabay/HASTYWORDS)

Dengan kematiannya akan sulit melakukan pembuktian dan penelusuran lebih lanjut mengenai korupsi 500 juta yen tersebut.

Pihak perusahaan JDI bulan lalu juga mengumumkan adanya akuntansi yang tidak patut dalam laporan keuangan di masa lalu.

"Mantan eksekutif tersebut melaporkan sebelum 26 November lalu kepada pimpinan JDI mengenai adanya instruksi dari manajemen yang lama mengenai alasan dia melakukan pembukuan yang tidak benar tersebut," ujar sumber itu.

Baca: Aiko Sama, Puteri Kaisar Jepang Hari Ini Berulang Tahun ke-18

Baca: Mau Masuk Kuil Jepang Malah Mesti Lempar Koin Dulu di Gerbangnya

Pihak independen dari luar juga telah diminta untuk menyelidiki pembukuan JDI saat ini untuk melihat berbagai ketidakbenaran pembukuan di masa lalu.

Japan Display adalah produsen yang didirikan dengan mengintegrasikan bisnis panel kristal cair Hitachi, Toshiba, dan Sony, dan telah menerima dukungan publik dari dana publik dan swasta.

Perusahaan tersebut sempat jatuh dengan munculnya kasus korupsi tersebut.

Innovation Network Corporation Jepang (INCJ) membiayai merger divisi Sony, Toshiba, dan LCD Hitachi menjadi satu entitas dengan menginvestasikan dua ratus miliar yen.

Sejak Maret 2014, JDI merupakan satu pemasok raksasa di Jepang untuk panel kristal cair Apple's iPhone, juga Nintendo Switch dan bersama Sharp Corporation sampai tahun 2017.

INCJ menjadi pemegang saham terbesar di JDI memiliki saham sebesar 25,29 persen sejak 21 September 2018 sebagai dampak dari adanya perpecahan di INCJ antara grup yang pro dan kontra pengambilalihan JDI.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved