Deutsche Welle

Bali, Surga Wisata yang Kekurangan Air Bersih

Riset dari Yayasan IDEP Selaras Alam Bali menunjukkan bahwa kondisi Bali tengah dilanda krisis air bersih. Bukan hanya karena kemarau…

Bali, surga bagi para wisatawan dunia tengah dilanda krisis air bersih. Hasil riset yang dilakukan oleh IDEP Foundation atau Yayasan IDEP Selaras Alam, sebuah yayasan yang fokus pada pembangunan berkelanjutan di Bali, memaparkan fakta-faktanya.

Menurut IDEP, muka air tanah di beberapa wilayah di Bali, terutama di daerah bagian selatan, telah mengalami penurunan hingga lebih dari 50 meter dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Tidak hanya muka air tanah, air permukaan seperti danau dan sungai pun mengalami hal serupa. Danau Buyan misalnya, danau yang menjadi sumber air tawar terbesar kedua di Bali itu disebut telah mengalami penurunan 3,5 meter hingga 5 meter dalam waktu hanya tiga tahun. IDEP juga menyebutkan bahwa 60% aliran air atau watershed di Bali telah mengalami kekeringan.

Penurunan muka air tanah ini berimbas pada kualitas air tanah yang tercemar karena adanya intrusi air laut. Riset dari IDEP bekerja sama dengan Politkenik Negeri Bali di tahun 2018 membuktikan hal tersebut.

Kepada DW Indonesia, Dewie Anggraini, Fundraiser dan Communication Officer dari IDEP Foundation menjelaskan bahwa air tanah yang sudah habis diserap, menyebabkan lapisan akuifer di dalam tanah menjadi kosong. Ketika hal ini terjadi, intrusi air laut ke dalam akuifer pun tidak terhindarkan.

"Air laut masuk ke dalam akuifer yang semestinya air tanah, tapi menjadi bercampur dengan air laut," ujar Dewie kepada DW, Senin (02/12).

"Dan itu tidak bisa dikembalikan lagi ke kondisi awal jadi di beberapa daerah mungkin airnya sudah terasa payau," tambahnya.

Baca juga: PBB: Seperempat Pusat Kesehatan di Dunia Kekurangan Air Bersih

Eksploitasi air tanah

Menurut Dewie, krisis air bersih di Bali sudah terjadi sejak lama. Selain karena lemahnya regulasi pemerintah dalam hal pengontrolan air baik domestik maupun non domestik, krisis ini juga ia nilai disebabkan oleh "eksplorasi dan eksploitasi air tanah", karena pesatnya pertumbuhan pariwisata di Pulau Dewata.

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved