Seven Eleven Jepang Hadapi Tuntutan dari Pemilik Toko, Tak Setuju Putus Kontrak Sepihak

Matsumoto mengatakan bahwa dia akan menolak untuk meninggalkan toko dan mengatakan bahwa dia ingin terus menjual barang-barang yang tersisa.

Seven Eleven Jepang Hadapi Tuntutan dari Pemilik Toko, Tak Setuju Putus Kontrak Sepihak
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Mitoshi Matsumoto (57), pemilik Seven Eleven Minamikamikosaka, Higashi Osaka, Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seven-Eleven Jepang khususnya Kantor Osaka bertemu dengan pemilik toko swalayan di Minamikamikosaka, Higashi Osaka, yang memperpendek jam kerja sejak Februari 2019 tanpa persetujuan dengan kantor pusat.

Lalu akan membatalkan kontrak waralaba pada 31 Desember 2019 sesuai jadwal.

"Saya menolak untuk mengosongkan toko dan telah mengajukan uji coba ke pengadilan setempat," ungkap Mitoshi Matsumoto (57), pemilik Seven Eleven Minamikamikosaka, Higashi Osaka, Sabtu (28/12/2019) sepulang dari kunjungannya ke kantor regional Seven Eleven Osaka.

Setelah pertemuan 3 jam, toko Seven Eleven Minamikamikosaka memutuskan akan mengajukan gugatan ke pengadilan karena pemutusan kontrak sepihak Seven Eleven kepadanya.

Baca: Ahmad Dhani Bebas Hari Ini, Begini Reaksi Berbeda Maia Estianty dan Mulan Jameela

Baca: Cara Jepang Membagi Rata Penghasilan Pajak, Didistribusikan Kembali ke Pemerintah Daerah

Baca: Selama 9 Bulan, Penjualan di Pasar Ikan Iwate Jepang Mencapai 4,85 Miliar Yen

Menurut pemilik Matsumoto, setelah tanggal 31 Desember pengiriman barang dan penggunaan mesin kasir akan dihentikan oleh Seven Eleven.

Matsumoto mengatakan kepada wartawan bahwa dia akan menolak untuk meninggalkan toko dan mengatakan bahwa dia ingin terus menjual barang-barang yang tersisa di toko.

Dia kemudian mengajukan tindakan awal kepada pengadilan meminta konfirmasi statusnya sebagai pemilik dan menekankan idenya untuk melawan markas besar Seven Eleven mengenai keputusannya tersebut.

Pada bulan Februari, toko ini mulai mempersingkat jam kerja tanpa persetujuan dengan kantor pusat, yang memicu masalah operasi toko swalayan 24 jam.

Seven-Eleven Jepang menyatakan, "Kami saat ini sedang dalam pembicaraan antara kedua pengacara dan tidak akan berkomentar."

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved